AKU masuk dengan membanting pintu, mencari sosok tinggi yang ternyata sedang sibuk menyapu serpihan kaca di lantai.
Tanpa ba-bi-bu, aku mendorong bahunya, membuat sapu ijuk itu terjatuh. Namun, ia tak mengatakan apa pun, malah memungut sapunya lagi dan berdiri mematung di depanku.
“Jelasin ke gue, sekarang!”
Ucapan formalitas dan semua keramahtamahan yang berusaha kubangun selama tinggal di sini telah sirna. Merekalah yang memaksaku untuk terus mundur dan mundur tanpa jeda.
Mama menggenggam pergelangan tanganku, mengelusnya pelan-pelan dan berujar dengan suara serak.
“Pe, kamu tenang dulu, ya. Biar kami yang jelasin.”
Aku menepis tangan Mama, mataku hanya tertuju pada Alder yang membisu, seolah-olah kemarahanku tidak berhubungan dengan dirinya.
“Utang apa? Lu selama ini kerja buat apa? Main judi, slot, sewa LC?”
“Peony!”
Aku membuang napas kasar, lalu mengusap wajahku saat mendengar suara nyaring Amah menegur tuduhanku. Ia masuk dengan Papa, duduk di kursi roda dengan angkuh dan langsung mengambil posisi untuk melerai pertikaian kami.
“Bukan utang duit. Ini masalah koko lu, lu tidak perlu ikut campur.”
Aku mundur selangkah, melihat mereka semua yang juga mungkin sedang menatapku dengan pandangan aneh. Kemarahanku dianggap tidak beralasan. Mereka pikir, semua kekonyolan ini kulakukan sekadar menyenangkan egoku sendiri.
“Aku ini masih keluarga kalian bukan, sih?”
Aku menghela napas panjang, menjaga suaraku tetap stabil meskipun pelupuk mataku sudah berair dan siap tumpah kapan saja.
“Kamu ngomong apa, sih, Pe? Kamu itu anak Mama, keluarga Sage.”
Mama mengambil inisiatif untuk menggenggam kedua tanganku, sibuk meyakinkan bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini, kendatipun nyatanya tak seperti itu.
Lagi-lagi aku melepaskan genggaman itu, masih mempertahankan harga diriku yang terluka karena sikap acuh tak acuh mereka selama ini.
“Terus kenapa aku selalu dijadikan orang luar, Ma?”
Tanpa menoleh, aku menunjuk Alder.
“Dia bikin rumah peninggalan Akong rusak, dia bikin Amah harus pergi dari rumah ini. Bahkan, Amah harus pura-pura nggak kecewa pas tahu Tuapek nggak ada saat dibutuhkan.”
Sebuah rasa asin menyelinap ke dalam mulutku. Tanpa disadari, air mataku sudah mengaliri pipi, menuruni dagu, dan berakhir di dalam baju.
“Aku cuma pengen tahu, siapa dan apa mau mereka. Kenapa kalian harus sembunyiin semua ini dari aku, sih?”
Hanya kesunyian yang tersisa saat aku mengungkapkan perasaanku yang terabaikan. Selalu seperti ini. Sudah sepuluh tahun, tetapi secuil perubahan pun tak terjadi.
“Balut dulu lukanya.”
Aku mengerjap saat mendengar suara tertahan Alder, lalu melirik tanganku yang tergores pisau. Kain untuk membalut tadi sudah memerah sepenuhnya. Samar-samar, aku mencium bau anyir darah, tetapi tak cukup untuk mengalihkan rasa sakit di hatiku.
“Bersihkan dulu lukamu, Pe. Baru kami jelasin.”
Mama mencoba membujuk, tetapi hatiku membatu, sama halnya dengan mereka.