2012
KRINGGG
AKU terlonjak hingga jatuh dari tempat tidur saat jam beker yang kusetel pukul enam lewat sepuluh menit berdering nyaring. Aku mengaduh kesakitan sembari berusaha menggapai nakas—mematikan suara berisik itu.
Berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi, aku mendadak tersenyum lebar saat mengingat hari yang sudah lama kutunggu. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, aku mengenakan gaun katun putih gading bermotif bunga peony kecil. Potongannya sedikit kebesaran hingga pinggangnya harus kukencangkan dengan tali kain.
Gaun ini hadiah dari Amah. Ukurannya sengaja dipilih lebih besar agar bisa kupakai bertahun-tahun. Katanya, sayang kalau baju bagus hanya muat sebentar.
Aku memeriksa meja rias, lalu memilih memakai kacamata gaya dengan bingkai hitam pekat yang tebal. Sembari bersiul riang, aku menjepit poni menggunakan dua jepit rambut yang kudapatkan dari sebungkus jajanan rasa sapi panggang.
Mataku melirik jam beker yang sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh sembilan. Panik, aku segera merapikan rambut dan pakaianku sebelum berjalan ke bawah, mengendap-endap melewati ruang tamu dan menyelinap ke luar tanpa disadari oleh orang rumah.
Karena sepatuku baru dicuci, aku hanya bisa mengenakan sandal tipis entah milik siapa, berjalan hati-hati di pekarangan Amah. Ya, tempat ini sudah lama dimonopoli oleh bunga mawar dan tanaman hijau lainnya. Kalau saja ‘anak-anak’ ini terluka, Amah pasti akan mengomeliku siang dan malam.
“Satu … dua … tiga!”
Aku memasang telinga saat sayup-sayup mendengar suara dentingan benda logam yang beradu. Senyumku merekah, Heksa sudah sampai.
Pelan-pelan kubuka pintu pagar agar tidak ketahuan orang rumah. Saat mendongak, sebuah senyum manis yang dilontarkan oleh pria sepeda ontel itu menyambutku. Di keranjang depan, ada satu ikat koran yang memang ditujukan untuk rumahku.
“Selamat pagi, Nona. Koranmu sudah datang.”
Aku terkekeh geli saat Heksa turun dari sepedanya dan menyerahkan koran pagi kepadaku dengan sapaan ala-ala orang Barat.
Aku ikut meladeni—membungkuk sedikit sebelum menerima koran pemberiannya. Sejurus kemudian, kami tertawa bersama karena melakukan hal konyol ini di pagi buta.
“Sudikah Nona ini dibonceng oleh saya untuk jalan-jalan dan menghirup udara segar?”
Aku memperhatikan pakaian Heksa yang jauh lebih rapi dari hari-hari lalu. Kali ini ia mengenakan kemeja kotak-kotak cokelat tua yang dipadukan dengan celana denim hitam. Untuk pertama kali setelah mengenal Heksa, ia memakai sepatu kanvas, bukan sandal jepit yang warnanya sudah campur aduk.
“Tentu saja, Tuan.”
Aku menaruh koran dalam genggamanku ke kotak surat dan segera menuju kursi boncengan. Mataku berbinar saat menemukan besi-besi tipis yang sebelumnya melukai pantatku sudah dialasi dengan busa dan kain tebal.
Sial. Kepeduliannya membuatku terharu. Belum sempat tersadar dari lamunan, telingaku sudah disumpal menggunakan earphone yang tersambung ke MP3 Player berbentuk bulat.
Mataku memelotot saat mendengar teriakan keras dari penyanyi pria yang menusuk gendang telinga. Ia menggunakan bahasa Jepang dan Inggris secara bergantian.
Pasti band rock itu lagi. Awalnya aku bingung, apa yang bisa dinikmati dari teriakan-teriakan mengganggu ini? Namun, entah sejak kapan, melodi keras dan suara gitar yang terdengar kasar mulai terasa apik di telingaku.
“Lagu baru mereka?”
Aku memejamkan mata dan mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama yang cepat penuh semangat. Belum ada semenit, lagu lain sudah diputar. Kali ini berbanding terbalik dari yang sebelumnya. Melodi indah dan lirik yang menyentuh mengalun pelan, diikuti oleh suara merdu dari sang vokalis yang selama ini selalu berteriak dan memakai nada-nada tinggi.
“Ini baru lagu baru mereka.”
Aku membuka mata, melihat Heksa tersenyum sembari membenarkan anak rambutku yang mencuat karena tidak terjepit rapi.
“Taka punya suara tenor. Jadi, jangan heran kalo dia bisa nyanyi apa aja.”
Aku mengangguk sok paham, padahal kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul karena perilaku manis yang mungkin, empunya sendiri pun tak sadar.
Setelah sedikit berbasa-basi, kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke pantai, berencana duduk santai sembari menikmati sinar mentari pagi.
“Jangan lama-lama. Nanti orang rumah tahu.”
Kaki kananku yang baru saja ingin menaiki boncengan mendadak berhenti di udara. Heksa pun tampak kaget saat kepala seseorang menyembul dari balik pagar kayu.
Alder hanya berdiri, tidak keluar atau menyapa. Sikap cuek, tetapi perhatiannya tak pernah bisa kumengerti. Ia selalu menjadikan hal mudah terasa susah dan merepotkan.
“Iya, kamu jangan bilang siapa-siapa!”