SAAT pintu terbuka, sosok kuyu yang mengenakan tempelan pereda demam di dahinya menyambutku. Rambutnya terlihat lepek oleh keringat, baju barong kebesaran itu menampakkan tulang selangkanya yang menonjol tajam.
“Ce Peony?”
Suara yang selalu ceria itu kini terdengar serak dengan napas berat yang kuduga karena flu. Ia mempersilakanku masuk, tetapi aku menolak dan mengajaknya untuk duduk di kursi taman.
Ia menuruti tanpa banyak berkomentar, sesekali memperbaiki posisi selimut merah mudanya yang melorot.
“Lu oke, Yer? Udah minum obat?”
Aku dengan hati-hati mengawasi setiap pergerakannya yang lambat dan tampak kesulitan. Setelah duduk, ia menghela napas dan memejamkan mata selama semenit. Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan larut dalam cuaca mendung sore ini.
“Kenapa nyari aku?”
Dua bola mata indah itu menatap lurus ke depan, entah melihat kembang-kembang yang tertanam di pekarangan atau hanya tatapan hampa yang tersedot ke dimensi lain.
“Gue mau bilang makasih ke lu. Kalo bukan lu yang telepon, gue pasti nggak bakal tahu soal Alder.”
Yera terbatuk-batuk dan tidak langsung menjawabku. Aku jadi teringat suaranya saat menelepon tadi, memang terdengar lebih serak dari biasanya.
“Nggak, kok. Aku cuma keluar buat mastiin situasi. Ternyata udah chaos banget. Makanya aku hubungi Ce Peony.”
Aku mengangguk paham dan keheningan melanda kami. Diam-diam aku melirik Yera yang bersandar malas sembari mengistirahatkan kepalanya. Penampilan berantakan yang tidak pernah kulihat ini begitu menarik. Bagiku, ia adalah tipikal gadis anggun yang menjaga penampilan.
Dulu, di antara kami berempat, Yera adalah orang paling modis dan tahu soal banyak hal. Ia punya BBM, aktif di Tumblr, tahu fashion yang sedang tren, seperti memakai bandana motif polkadot, catok rambut lurus, punya gelang warna-warni, playlist lagu Barat yang selalu update, dan masih banyak lagi.
Bagi kami, Yera itu seperti internet. Sampai-sampai, kami punya slogan sendiri: “Kalau tidak tahu, tanya saja ke Yera!”
“Udah hampir sepuluh tahun pisah, nggak nyangka kita semua bisa ketemu lagi.”
Aku memulai percakapan basa-basi, diam-diam melirik Yera yang masih bergeming, tetapi napasnya terdengar semakin keras.
“Tadi gue ketemu Heksa.” Aku menelan ludah. “Dia udah tahu soal Alder. Lu pasti tahu juga, ‘kan?”
Aku menyentuh perban yang menggulung telapak tanganku. Sebelum berpisah, Heksa menyempatkan diri membalut lukaku. Kami tak berbicara banyak, hanya saling diam dan melontarkan satu atau dua senyuman kecil.
“Enak, ya, jadi kamu.”
Aku menoleh, menyaksikan bagaimana tatapan yang semula sayu, berubah menajam. Tubuhnya juga menegak, membuat selimut merah muda itu jatuh ke tanah. Kini ia sepenuhnya menghadapku dengan tatapan seolah memusuhiku.
“Enak banget, ya, bisa bebas ngelakuin apa pun, sementara orang lain harus mati-matian nanggung rasa sakit yang kamu buat.”
Aku mengernyit dalam, tidak paham dengan kalimat rancunya.
“Setelah semua yang terjadi, kamu masih bersikap kayak korban dan berharap dia balik?”
Aku tak mengerti satu pun ucapan Yera. Hanya saja, setelah mendengarnya, ada sesuatu yang terasa tak beres.
“Yera, lu ngomong gini ke gue karena masa lalu kita? Gue tahu lu masih sedih soal Hek—”
Tangan lentik itu buru-buru menggenggam–menekan–tanganku yang diperban, menyebabkan ringisan kecil keluar dari mulutku yang menahan sakit.
“Tahu apa kamu soal kesedihan?”
Setetes air mata jatuh ke permukaan kursi, langsung meresap dan menghilang tanpa jejak.