AKU berdiri di depan toko snack dan suvenir, menatap pantulan diriku di kaca pintu yang mengenakan gaun dari sepuluh tahun silam. Peganganku pada gadget mengerat. Kemarin, aku menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang kuyakini milik Heksa.
[Bsk bs dtng ke toko? Ad yg mau kusampaikn]
“Peony?”
Aku tersentak saat tangan seseorang menyentuh bahuku. Reaksi yang agak berlebihan mengundang tanya dari orang di depanku. Aku mengedip, memperhatikan bagaimana rupa pria yang mengenakan kemeja krem kotak-kotak lengan pendek dan celana denim hitam.
Hidungku berkedut saat mencium wangi baru dari tubuhnya. Sudah bukan bunga selasih, melainkan aroma woody yang kuat.
“Kenapa nggak masuk?”
Aku menggeleng.
“Itu, di pintu masih ada tulisan tutup, gue kira lu belum dateng.”
Setelah sedikit berbasa-basi, pria itu mempersilakanku masuk. Dari belakang, aku mengawasi bagaimana caranya melangkah, membuka pintu dengan tangan kiri, dan tak perlu repot-repot menahan pintu untukku.
“Duduk aja dulu. Aku mau bikin minum.”
Aku menghela napas, dengan gugup membenarkan pita di poniku yang mengendur, lalu mengurut dadaku yang terasa mau meledak. Padahal sudah melakukan banyak persiapan, tetapi hatiku masih saja galau tak menentu, tak berani bertanya apalagi berprasangka.
Selang beberapa menit, Heksa muncul dengan memegang segelas cairan berwarna kuning pekat. Ia langsung memosisikan diri duduk di depanku sembari meletakkan gelas berembun itu di meja.
“Kamu udah makan?”
Aku mengerjap, spontan melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Aku mengangguk sembari mengambil gelas tinggi itu dan meneguk isinya.
Dahiku mengernyit saat rasa manis bercampur asam memecah di lidahku. Sial, aku benci rasa buah oren ini.
“Makasih, ya. Aku senang kamu mau datang.”
Entah mengapa, kurasakan nada bicaranya berubah menjadi lebih lembut, seperti ada percikan kesedihan dalam setiap kalimat yang ia ucapkan kepadaku.
Hal ini membuat jantungku memompa lebih cepat, mengantarkan rasa khawatir ekstrem soal ucapan Yera kemarin.
“Heksa … lu mau ngomong apa sama gue?”
Ia tak langsung menjawab, hanya membiarkan dirinya bersandar ke kursi kayu, menunduk sembari mengetuk pinggiran meja berulang kali.
Aku terusik, tetapi memilih menyibukkan diri melihat lonceng yang berdenting saat tertiup angin dan cangkang kerang yang menari di langit-langit. Aku berusaha memberinya waktu untuk menjelaskan, berusaha mengerti mengapa ia tak bisa jujur selama ini.
“Bulan depan aku pindah.”
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku hanya bisa tersenyum kaku menanggapi ucapannya yang menohok hatiku.
“Oh ya? Ke mana?”
“Tempat yang jauh.”
Aku menunduk, tersenyum pahit saat tahu ia bahkan tak bisa memberitahuku soal kota yang dituju, soal ke mana aku harus mencarinya nanti kalau rindu.
“Berapa lama?”
“Mungkin … selamanya.”
Aku mendongak, menatap lurus ke arahnya yang juga sedang mengawasiku dengan dua mata sipit itu.
“Dan lu baru ngasih tahu gue sekarang?” Aku tak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Mungkin, ia sudah melihat tatapan putus asa ini berulang kali.
“Aku … nggak tahu harus mulai dari mana.”
Aku merogoh tasku dan mengeluarkan selembar foto usang yang kuambil diam-diam.
“Jelasin.”
Pria di hadapanku tak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada foto itu, berlama-lama menelusuri dua sosok anak kecil di atas kertas kusam. Setelah beberapa saat, ia mengembuskan napas panjang.
“Akhirnya kamu nemuin juga.”