AKU tersentak saat kakiku terasa beku. Lekas-lekas kulihat sekelilingku yang berwarna putih kecokelatan. Ini laut, dan aku berdiri di ujung dermaga. Di bawahku ombak menabrak tiang pancang dengan kuat. Langit bergemuruh, rintik-rintik hujan sudah terasa di seluruh tubuhku yang hanya mengenakan kain tipis tanpa alas kaki.
Perasaanku campur aduk, tidak mengerti bagaimana aku bisa sampai di sini, di tempat penuh luka ini. Pelan-pelan, aku memandang ke lautan lepas, mencari sosoknya yang menghilang sepuluh tahun lamanya.
“He–Heksa?”
Mulutku tertatih-tatih memanggil namanya, bagaikan membuka kenangan masa lalu yang tak mungkin terulang.
“Kamu di mana, Hex? Aku kangen ….”
Hujan semakin deras, ombak semakin ganas menghantam dermaga, dan suara lemahku semakin tertelan karenanya.
“Maafin aku, maafin aku ….”
Tubuhku ambruk menabrak kayu lembap, mengantarkan sensasi dingin saat percikan air asin dari sela-sela jembatan mengenaiku.
“Gara-gara aku, kamu jadi gini. Cuma gara-gara keegoisanku.”
Hatiku hancur, tak seorang pun bisa menolongku dari rasa bersalah ini. Karenaku, ia mati dan membusuk di lautan, selamanya menghilang, tanpa jasad, terombang-ambing di tempat asing. Sendirian.
Aku memukul dadaku berulang kali, berharap rasa sakit ini akan mereda, berharap hatiku bisa menerima semuanya.
“Pulanglah, Hex. Pulanglah kepadaku ….”
Aku mendongak, merasakan tusukan tumpul dari air hujan yang mengguyur seluruh tubuhku, seakan-akan tengah membersihkan nodaku.
Sejenak, aku tak merasakan setetes air pun, seperti seseorang tengah memayungiku dalam diam. Saat membuka mata, sosok itu berdiri di hadapanku. Ia merentangkan kedua tangannya, menjadikan kemeja kotak-kotak krem itu sebagai pelindungku.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, wajah di hadapanku tak lagi tercerai-berai menjadi potongan-potongan asing.
Aku mengenalinya. Benar-benar mengenalinya.
Mata sipit yang membentuk bulan sabit, juga kerutan halus di sudut bibirnya yang tertarik ke atas.
Senyum yang kurindukan, orang yang kumimpikan di setiap malam, dan cinta pertamaku yang kandas.
Dengan tangan gemetar, kusentuh pelan pipinya. Jemariku nyaris tak memberi tekanan, seolah sentuhan yang sedikit lebih kuat saja akan membuatnya lenyap.
“Heksa ….”
Aku terus memanggil namanya, tetapi ia membisu, membiarkanku menangis seorang diri, larut dalam kesedihan tak berujung.
Perlahan, ia mengangkat tangannya. Bukan untuk memelukku, bukan pula untuk menggenggam tanganku. Ia hanya menyentuh pipiku sebentar, meninggalkan rasa hangat yang seakan menetap selamanya.
Aku memandangi wajah itu sekali lagi, berusaha menghafal setiap lekukan yang tak pernah bisa kusimpan dalam ingatan.