AKU membuka pintu toko dan masuk dengan menenteng sekantong bahan mentah. Tadi, aku mampir ke pasar dan membeli beberapa keperluan untuk membuat sarapan.
Mataku memandang langit-langit yang dihiasi kerang dan botol kaca isi pasir, mulai mengingat persoalan bulan lalu, saat aku baru saja membuka toko ini seorang diri.
Aku kewalahan. Walaupun tak seramai pasar, selalu ada lima sampai sepuluh orang yang mampir. Ada yang membeli oleh-oleh, ada pula yang sekadar duduk menikmati kopi atau minuman dingin sembari memandangi laut.
Dibalik meja kasir, kusaksikan mereka berlalu-lalang diiringi canda tawa. Toko kecil ini pun perlahan menemukan ritmenya, begitu juga aku.
Pandanganku mengarah ke pintu kaca cukup lama, masih berangan-angan suatu hari nanti seseorang akan berkunjung.
Ting!
Aku tersadar dari lamunan dan mengeluarkan semangkuk mi instan yang kupanaskan dalam microwave. Aku menambahkan dua butir telur rebus dan potongan sawi, lalu mulai menyantapnya sembari duduk di depan meja kasir.
Saat sedang menyeruput kuah, lonceng berdenting, menandakan ada seseorang yang masuk di luar jam operasional toko.
“Maaf, kami belum buka—”
Aku terdiam saat melihat postur tubuh yang familier berjalan mendekatiku. Pakaiannya terlihat cukup normal, hanya saja kali ini ia mengenakan kupluk merah tua yang merusak pemandangan.
“Libra?”
Ia terbahak-bahak saat melihatku ragu-ragu menebak namanya. Tangannya yang bebas digunakan untuk merebut mi pedasku dan ikut mencicipi tanpa tahu malu.
“Kenapa? Pangling, ya?” tanya Libra setelah menghabiskan sarapanku.
Tak sampai situ, tangan kurang ajarnya mengambil sosis keju yang sengaja kusimpan untuk dimakan nanti. Saat kularang, ia dengan sengaja berjalan mundur sembari melahap habis sosis malangku.
“Pelit amat lu. Hubungan kita sebatas mi dan sosis doang, nih?”
Aku melempar kunci toko ke arahnya, tetapi refleksnya cukup cepat untuk menangkap dan menggoyangkan benda logam itu untuk mengejekku.
“Lu nyerahin toko bobrok ini ke gue?” Ia menggelengkan kepalanya kelewat dramatis. “No, thanks banget. Mending gue leha-leha sambil main saham.”
Aku menghela napas dan menaruh mangkuk kotor ke wastafel di sebelah jendela. Tak lama, Libra muncul di sampingku dan menyerahkan sebotol minuman dingin rasa stroberi.
Aku menerimanya tanpa mengatakan apa pun. Kami berdua berdiri di depan jendela yang mempertontonkan pemandangan laut saat mentari baru saja terbit.
“Lu masih takut laut?”
Aku menoleh, melihat Libra yang tetap menatap lurus ke depan saat menanyaiku. Aku kembali memandangi laut, berusaha mencari jawaban yang selama ini juga menghantuiku.
“Nggak tahu.” Aku tersenyum tipis sebelum meneguk minumanku. “Tapi sekarang, gue udah nggak sakit lagi tiap nginget hari itu.”
Libra terkekeh. Telapak tangannya mendarat di kepalaku, mengacak rambutku hingga beberapa helai mencuat ke sana kemari.
Aku mendengkus dan menepis tangan besarnya. Ada jeda panjang sebelum suara beratnya memecah keheningan.
“Lu … masih susah ngenalin orang?”
Aku mengangguk tanpa ragu. “Masih, but it's okay. Gue bisa ngenalin lewat suara dan pakaian.”
Aku menunjuk kemeja bermotif bunga mataharinya. “Apalagi lu. Orang norak kayak lu mah gampang banget dikenalin.”
Tawa kami langsung pecah bersamaan. Setelahnya Libra bergumam yang sebenarnya hanya bisa di dengar oleh dirinya kalau saja telingaku tak setajam gajah.