Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #17

15. PEONY: Salam Perpisahan Untuk Amah

AKU memejamkan mata, menggenggam dua batang hio dengan tangan kanan yang masih bebas. Setelah selesai bersembahyang, hio itu kuserahkan kepada Mama yang berdiri di sebelah altar.

Pandanganku jatuh pada foto hitam putih yang terpajang di tengah karangan bunga. Sudut-sudutnya telah menguning dimakan usia. Di bawahnya tertera nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian seseorang.

Walaupun aku tak mampu mengenali wajah dalam foto itu, semua orang di rumah duka ini sudah tahu siapa wanita yang sedang mereka antar pulang.

Amah.

Aku menunduk, memperhatikan lengan kananku yang masih terbungkus gips. Akibat jatuh dari tangga beberapa hari lalu, tulangku patah dan dokter memintaku beristirahat selama dua minggu.

Tatapanku bergeser ke peti yang terletak di tengah ruangan. Amah berbaring dengan tenang, dikelilingi gincua¹ dan bunga mawar kesukaannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah kerasnya tampak begitu damai.

“Pe, tolong bagiin ini ke setiap meja.”

Mama menyodorkan setumpuk piring plastik dan sekantong jeruk manis. Dengan satu tangan, kususun tiga buah jeruk di atas setiap piring, lalu kutambahkan segenggam kacang tanah di sisinya.

Pekerjaan sederhana ini tetap terasa melelahkan. Aku harus bolak-balik melewati deretan pelayat yang memenuhi ruangan. Di sela-sela langkahku, samar-samar terdengar bisikan yang entah ditujukan kepada siapa.

“Kok, keluarga intinya nggak ada yang nangis, ya? Hebat banget.”

Langkahku terhenti.

Kepalaku memutar memandang seisi ruangan. Kurang lebih sepuluh orang mengenakan pakaian putih dan biru sebagai keluarga inti. Beberapa berdiri lama di dekat peti, beberapa hanya menunduk sebentar sebelum diam-diam mengusap mata dan pergi.

Papa masih berada di sisi peti, duduk bersila sembari membakar gincua menggunakan sebatang lilin merah. Bibirnya terkatup rapat, tak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda rapuh meski asap dupa terus mengepul mengelilinginya.

Sudah dua hari kami berada di rumah duka ini. Asap hio yang tak pernah berhenti dibakar membuat mataku perih dan memerah. Aku menguceknya pelan sebelum kembali mengangkat tumpukan piring kosong.

“Pulang duluan aja.”

Suara Alder membuatku menoleh. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di belakangku. Untungnya, kini aku mulai akrab dengan aroma parfum maskulin yang selalu mendahului kehadirannya.

Aku melirik ke luar. Langit telah menggelap, hanya diterangi seiris bulan sabit.

Ternyata malam sudah larut.

Lihat selengkapnya