AKU turun dari kereta dengan menenteng sekantong lauk kering untuk Peony. Setelah melihat-lihat plang, aku mengambil gawai dan membuka aplikasi maps. Di sana tertera rute perjalanan tercepat menuju tempat kerja Peony.
Aku membenarkan posisi ransel di punggungku dan mulai berlari kecil mengikuti instruksi dari gawai yang baru kubeli tahun lalu.
Setelah sepuluh tahun berpisah karena insiden itu, ini adalah pertama kalinya kami akan bertemu. Sedari tadi jantungku sudah berdegup kencang karena rasa antusias yang tak terbendung.
Saat melewati beberapa ruko-ruko yang dijadikan toko perhiasan, aku berhenti sejenak. Diam-diam mengamati isi dalam toko dan memutuskan untuk mampir sebentar.
Saat masuk, pegawai toko dengan senyuman ramah menghampiriku sembari bertanya-tanya perhiasan macam apa yang kucari. Ragu-ragu, aku menunjukkan foto kalung nama dan meminta untuk dicarikan yang mirip.
Ia hanya mengangguk singkat dan membawaku ke etalase paling tengah, menunjukkan beberapa model kalung perak dan emas yang berkilau.
“Kalo boleh tahu, Koko nyari buat siapa, ya? Pacar?”
Aku menggeleng. Mataku masih fokus memperhatikan setiap kalung yang sekiranya cocok kukenakan saat bekerja di bengkel. Lalu pandanganku tertuju ke satu kalung rantai yang memiliki liontin plat militer.
Aku tersenyum.
“Buat saya.”
Pegawai toko menyuruhku menyelesaikan pembayaran dan menunggu beberapa menit. Sembari duduk di kursi tunggu, aku mengecek gawai dan melihat beberapa pesan dari Mama yang mempertanyakan lokasi dan keadaanku.
Setelah sembilan tahun mendekam di tempat itu, banyak kekhawatiran yang diam-diam keluargaku simpan. Aku tak bertanya, lebih tepatnya, tak berani menanyakan apa pun. Setelah semua kekecewaan yang harus mereka telan bulat-bulat karena ulahku, sekarang yang bisa kulakukan adalah memperbaiki segalanya.
“Ini pesanannya, Ko. Semoga suka dan jangan lupa mampir lagi, ya.”
Aku mengambil tas kertas cokelat muda itu tanpa kata, hanya mengangguk singkat sebelum melengos dengan dua tentengan ringan.
Tujuan pertamaku adalah ke apartemen sewaan milik Peony. Walaupun ia tak di rumah, aku hanya ingin melihat sekilas tempat tinggalnya. Melihat dari maps, jarak apartemen dan tempat kerjanya hanya sepuluh menit.
Tempat yang strategis. Hanya saja, ketika melihat betapa tingginya tempat ini, aku tercengang. Tak ada lift, hanya tangga semen yang sudah tua dan pecah di sana-sini. Lampu di langit-langit tangga mengedip berulang kali, seakan bisa konslet kapan saja.
Apartemen Peony ada di lantai lima. Kesunyian menelanku sepanjang anak tangga. Tempat besar ini terasa kosong dan sedikit menyeramkan. Penampakannya sama seperti di penjara, hanya saja semua orang bisa bebas keluar dan masuk di sini.
Saat membayangkan Peony harus melalui semua ini setelah mengalami hari yang panjang, hatiku mendadak kesal karenanya.
Saat sampai, dari kejauhan aku melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemen yang kuyakini milik Peony.