Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #19

EPILOG 2: HEKSA

AKU tersentak saat seseorang menepuk pelan bahuku. Dengan pandangan kabur, aku menatap linglung ke arah orang yang membangunkanku.

“Tadi ada cewek yang nyariin kamu, Ko.”

Aku menoleh ke pintu utama dan tidak menemukan siapa pun di sana. Namun, aku tahu kalau ia pasti datang hari ini.

Hari pemakaman Papa.

Aku bangkit dari tikar dan meremas pelan bahu Hasta. Hebatnya, adikku ini tidak merengek dan menangis. Justru aku dan dia berulang kali berganti posisi untuk menyambut tamu dan menjaga peti Papa.

Kami sama-sama kelelahan. Kendatipun lebih tua, aku tetap tak bisa menahan kekalutan tentang kepergian Papa yang begitu mendadak.

Aku memandangi peti yang tertutup rapat itu cukup lama, lalu melihat sekelilingku yang sepi. Bahkan, di hari terakhirnya, Papa tetaplah orang yang terasing. Dengan semua perilaku menyimpangnya, tak heran kalau Mama memilih pergi hari itu.

Aku hanya tak menyangka harus kehilangannya dengan cara sekeji ini.

“Bisa jaga Papa bentar, Has? Aku ada urusan sama cewek tadi.”

Aku melirik jam dinding di tengah ruangan.

“Sebelum jam sepuluh, aku pasti balik.”

Hasta mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya padaku. Ada guratan kasar di wajah tirusnya, juga lingkaran hitam di bawah mata cekungnya. Hatiku terenyuh, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menjaganya setelah hari ini.

“Makasih, ya, udah mau jadi keluargaku.”

Aku mengelus pelan rambut hitamnya yang mengeras, mungkin karena tak mandi selama tiga hari karena menjaga Papa. Ia lagi-lagi mengangguk patuh.

“Cepat balik, ya, Ko. Aku takut kalo sendirian.”

Aku mengangguk dan segera keluar dari rumah duka menggunakan sepeda ontel kebesaran. Sepanjang jalan, pikiranku hanya tertuju kepada gadis ceria bertahi lalat di pinggir mulut. Secara otomatis, kepalaku memutar kenangan lama di antara kami yang sangat manis dan menjanjikan.

“Pokoknya kita harus selalu sama-sama sampe gede, ya! Awas aja kalo kamu ninggalin aku, Hex.”

Sudut bibirku tanpa sadar melengkung ke atas saat mengingat panggilan anehnya padaku. Namun, saat memikirkan semua kebahagiaan ini harus sirna karena keegoisan Papa, aku marah.

Entah pada Papa atau pada keluarga Peony yang merenggutnya dariku. Aku hanya tak terima dan selamanya takkan pernah bisa mengerti mengapa harus aku dan Hasta yang mengalami kemalangan ini.

Aku mempercepat gowesanku saat melihat langit mulai mendung. Kepalaku menoleh ke arah pantai di bawah sana, melihat tak banyak orang yang bermain di sekitar laut, kecuali satu orang bodoh yang duduk terlalu dekat ke air.

Saat sampai di bawah, aku membuang sepedaku dan berlari ke arahnya. Napasku terputus-putus, bentuk sandalku membekas di pasir, sesekali disusupi satu atau dua batu kerikil tajam yang menusuk kulit.

Lihat selengkapnya