WA melihat sekeliling pasar yang ramai dan mulai menghela napas kasar saat tak menemukan satu pelanggan pun yang mampir ke toko. Sudah hampir sebulan toko ini sepi karena rumor buruk yang beredar.
Rumor kalau wa mempekerjakan seorang mantan narapidana. Sebenarnya tak salah, bahkan orang itu sudah wa pecat. Namun, memikirkan bagaimana sedihnya Peony saat tahu papa teman dekatnya kehilangan pekerjaan mengusik isi kepala wa.
Wa kembali duduk di kursi belakang meja kasir sambil termenung. Kalau saja orang-orang kolot ini bisa berpikiran terbuka, wa tidak perlu susah payah memecat orang cekatan seperti dia. Meskipun kaku dan sangar, papa Heksa selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Ia mengangkut barang, mengantar barang, dan menjaga toko dari preman tukang palak. Anak-anaknya pun sopan dan pekerja keras. Sayang sekali mereka harus terjebak dengan pekerjaan menjual koran.
Di saat wa sedang sibuk membaca koran, seseorang masuk ke dalam toko. Kepala wa menoleh dan menemukan sosok familier yang baru saja dibicarakan.
“Kenapa, Sul?”
Wa berdiri, sedikit merapikan rok motif kembang yang sempat kusut saat wa duduk di kursi kayu. Samsul tak menjawab, juga tidak memandang wa. Dari tubuhnya, tercium bau alkohol yang menyengat. Kemejanya pun tampak lusuh dan kotor.
Wa mengibaskan tangan dan berkacak pinggang.
“Lu masih minum-minum, ya? Masih judi juga?”
Kekurangan Samsul hanyalah dua hal yang wa sebutkan. Dia terlalu sering minum dan berjudi. Semua uang hasil kerja kerasnya raib begitu saja. Sampai ke istri dan anaknya pun tidak.
“Saya mau pinjem duit, Nya.”
Aku menggeleng dan kembali duduk di kursi kasir, malas menanggapi sifat buruknya satu ini. Dulu, saat masih kerja, dia selalu meminta gajinya dibayar di awal, tetapi selalu kekurangan di pertengahan bulan.
Aku menatap wajahnya yang lesu dan menghela napas.
“Memangnya lu mau pinjem berapa?”
Ia tampak menelan ludah gugup sebelum menyebut nominal yang fantastis.
“Sepuluh juta, Nya. Bisa?”
Melihat muka wa yang melongo, ia kembali melanjutkan dengan nada panik.
“Saya janji bakal balikin segera. Sekarang saya butuh banget buat anak-anak saya, Nya.”
Ia menyatukan kedua tangannya di dada, memohon-mohon pada wa yang bergeming.
“Tidak bisa, Sul. Lu lihat sendiri ‘kan kalo toko wa lagi sepi. Wa tidak punya duit segitu.”
Wa mengusirnya secara halus, tetapi ia dengan tidak tahu malunya malah bersujud di depan wa. Kebetulan, ada beberapa orang yang lewat di depan toko dan diam-diam melirik ke arah kami.
Wa langsung menghampiri Samsul, berusaha menyuruhnya berdiri dan berhenti membuat keributan. Namun, pria bodoh ini keras kepala dan mengabaikan omongan wa.
“Saya nggak bakal berdiri sebelum Nyonya pinjemin saya uang.”
Wa memejamkan mata menahan sakit kepala yang datang di saat yang tak tepat. Benar saja kata mereka. Saat kita terlalu baik kepada orang asing, lama-lama ia akan meminta lebih. Bahkan, menginjak kepala kita.
“Wa jujur aja sama lu, Sul. Wa tidak bisa pinjemin lu duit. Sekalipun ada, wa tidak mau.”
Wa membuka laci meja nomor dua dan mengambil satu buku usang. Wa langsung melempar buku itu ke depan mukanya.
“Itu utang-utang lu ke wa yang belum lunas selama ini.”
Samsul hanya diam. Ia tampak syok saat tahu wa masih mencatat semua utang yang selama ini ia janjikan akan segera dibayar. Awalnya, hanya nominal kecil. Lama-kelamaan semakin besar dan berat.
“Selama ini wa diam karena tahu, lu pekerja keras. Lu harus hidupi keluarga lu, wa paham. Tapi wa tidak suka kalo lu main judi lagi.”
Wa menunjuk ke luar toko.