Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #1

Aroma Jeruk di Tanah Basah

Cheongsam merah tuanya mulai basah oleh rinaian hujan, berbeda dengan matanya yang memanas menahan linangan air mata. Di hadapannya, sebuah kayu nisan tanpa hiasan perayaan kematian berdiri tegak dan ditemani altar kecil dengan selusin buah jeruk masih segar di keranjang rotan. Ibunya menyambut anaknya datang. Sebuah undangan yang tidak pernah dikirimkan ke rumah pria itu.


Lebih dari 8.800 km pria itu tinggal, sebuah kota metropolitan modern di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Sesulit itukah Shenzhen untuk digapai oleh seorang perempuan yang pernah melahirkannya? Apakah di Dili, Timor Leste ini tidak ada telepon seluler? Hingga ia harus terbang diam-diam, memberontak pada ayahnya sendiri untuk bertemu ibu yang ia dambakan suaranya.


Ia hanya berkesempatan tinggal bersama ibunya saat masih balita di Dili. Selebihnya, ia bersekolah dan besar di Shenzhen. Saat ia mulai bisa baca tulis, ia dan ibunya bertukar surat sebulan satu kali hingga ia berumur 10 tahun. Setelahnya, ia tidak pernah mendapatkan kabar apapun tentang sang ibu.


Wajah ibunya samar-samar masih dapat ia ukir dalam kenangan dan sesekali dibantu oleh foto keluarga satu-satunya yang ia dapat temukan di rumah ayahnya. Tetapi canda tawa dan alunan lagu nina bobo yang pernah dikumandangkan ibunya, tidak dapat pria itu ingat. Meskipun ia tahu tidak akan dapat berjumpa muka dengan muka lagi, ia tetap datang ke Pemakaman Tionghoa Dili, sebuah pemakaman bersejarah yang berumur lima setengah kali lipat lebih tua darinya. 


Sejauh mata memandang hanya ada batu nisan berukuran sedang dan besar, jarang sekali yang kecil. Berbeda dengan punya ibunya yang hanya berbahan kayu. Wewangian mawar, melati, kenanga, kamboja, dan sedap malam meramu di udara menciptakan aroma yang khas dan atmosfer yang sulit dilukiskan. Namun ada satu aroma yang menyeruak lembut menyusupi kulit sang pria: jeruk mandarin.


Sebuah pohon jeruk mandarin setinggi 5 meter menaungi kuburan ibunya, seolah malaikat pelindung. Buah-buah setengah matang bergelantungan, warnanya hijau kekuningan kokoh diterpa angin kecil-kecil. Pria itu sampai mundur sedikit untuk mencapai pucuknya. Ia mengedarkan pandangannya dan firasatnya benar: tidak ada satu pun pohon jeruk lain.


Lihat selengkapnya