Wang Hen Li mengeraskan rahangnya mengingat-ingat kembali kata-kata apa saja yang dilontarkan kaki tangannya di Shenzen: tentang ibu, makam, dan Timor Leste. Hanya itu. Tidak ada mengenai perempuan bernama Yu Mei Fang ini. Apakah perempuan ini penipu dan hanya mengada-ada? Tapi kalau pun bohong, apa alasannya?
Sepanjang perjalanan, Yu Mei Fang hanya membisu dan sesekali melirik Wang Hen Li. Setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya diabaikan dan hanya dibalas dengan ulasan senyum. Di sebelahnya, Wang Hen Li berjalan terhuyung dengan tangan mengepal. Perut keroncongannya bergemuruh kecil memecah sunyi, namun demikian tetap tidak dihiraukan Yu Mei Fang.
Mereka beranjak keluar dari pemakaman dan tiba di pintu gerbang. Jalan raya yang sepi menyambut mereka. Di seberang jalan berjajar toko-toko kecil dan besar menjajakan aneka barang: pakaian, buku, makanan, dan bunga.
Tanpa ba-bi-bu, Yu Mei Fang menarik telapak tangan Wang Hen Li untuk menyeberang. Genggamannya sangat kuat untuk ukuran tubuhnya yang hanya setinggi pundak Wang Hen Li. Ada kehangatan yang tidak wajar menjalar masuk dan berhasil membuat pria itu terdiam. Tas selempang hanfu penuh bordiran milik Yu Mei Fang bergoyang-goyang seirama dengan tubuhnya, menghantarkan mereka tepat di sebuah toko bunga.
“Sudah sampai. Selamat datang di Mei-Mei Florist.”
Toko bunga kecil itu tersembunyi di sudut jalan sempit, diapit oleh bangunan tua berlapis cat yang mengelupas. Sebuah papan nama kayu sederhana bergantung di atas pintu, bertuliskan “Mei-Mei Florist” dalam aksara Tionghoa yang dicat merah pudar. Di bagian bawahnya, gambar bunga Mei Hwa dan jeruk mandarin berwarna emas kabur oleh terpaan matahari tropis.
“Tempat apa ini?”
“Ayi Xue Lili pernah tinggal di sini bersama kami.”
“Eh?”
Yu Mei Fang mendekati etalase kaca jendela dan mengangkat pot-pot keramik kecil berisi bunga segar satu per satu, membersihkan debu di bawahnya. Ada krisan kuning, anyelir merah, dan beberapa tangkai plum blossom artifisial yang terlihat nyaris asli. Teras langsung tampak dari luar dan sebuah bangku bambu tua dengan bantal bordir motif bunga di atasnya seolah memanggil mereka masuk.
“Nama kamu siapa?”