Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #4

Hari-Hari di Mei-Mei Florist

Fajar baru saja menyibak langit Dili ketika Wang Hen Li bangkit dari ranjang kecil warisan ibunya. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan! Kamar sempit ini terasa seperti kapsul waktu–dindingnya menyimpan wangi jeruk mandarin dan rempah yang tak dikenalnya, mungkin kayu cendana, persis seperti aroma masa kecilnya di Shenzhen. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah ingin memastikan bahwa ibunya–atau setidaknya bayangnya–masih ada di udara kamar itu.


Lalu, seperti ingin membalas kenangan dengan tindakan, ia mulai membersihkan seluruh rumah dengan saksama. Tidak ada satu pun debu kotoran ia lewatkan saat menyapu dan mengepel lantai. Mula-mula dari dalam: kamarnya, dapur, ruang berkumpul yang biasanya dijadikan ruang makan, menuju ke luar: lantai dekat kasir, ruangan utama toko bunga, dan terakhir teras.


Ada dua ruangan yang tidak berani disentuh Hen Li–kamar tidur Nenek Jiu dan altar tempat sembahyang. Kedua tempat itu punya suasana mistis yang tidak dapat dijelaskan. Sayup-sayup juga tercium wangi-wangian yang membuat sekujur tubuhnya bergidik. Apa jangan-jangan ini karmanya setelah kabur dari ayahnya?


Gemerincing mirip sendok kecil yang jatuh ke lantai keramik tiba-tiba menyebar masuk ke dalam toko. Yu Mei Fang hadir dengan senyum sumringah menepikan sepeda keranjang biru mudanya. Ia menenteng-nenteng paper bag penuh bunga lili tiga warna–putih, merah muda, dan kuning.


“Kamu darimana?” tanya Hen Li sambil mengambil paper bag tersebut dan menyimpannya dengan rapi di bangku bambu tua. Ia juga telah menyiapkan teh chamomile favorit Mei Fang.


“Tukang kebun langganan kami. Beliau tinggal di Rai Mean, lima belas menit dari sini.” Mei Fang menuangkan teh ke dalam cangkir bambu yang permukaannya sangat halus. Ia mengulas senyum seketika mencicipinya.


Mei Fang sekilas menatap Hen Li yang tetap berdiri sedari tadi. Ia menepuk tempat duduk sebelah kanannya. “Duduklah.” Hen Li pun menurut seperti kucing. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”


Hen Li memutar kepalanya cepat ke arah Mei Fang dengan bibir mengerucut. “Apa lagi? Kamu sudah tahu ‘kan.”


Gadis itu hanya terkekeh melihat tingkat Hen Li yang seperti anak kecil. “Oh iya, apakah tadi ada pengunjung?”


“Belum ada.”


“Baguslah.” Mei Fang meletakkan cangkirnya dan berdiri dengan anggun. “Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian melayani pelanggan.”


“Kamu meremehkanku?”


Gadis itu kembali tertawa dan membawa paper bag tadi ke dalam. Aneka bunga lili itu pesanan dari sepasang calon pengantin yang akan menikah esok hari. Hari ini Mei Fang sibuk merangkai bunga lili tiga warna dan membuat seratus souvenir bros bunga lili artifisial. Hen Li ingin terlibat tetapi Mei Fang melarangnya. Ia meminta Hen Li untuk memperhatikannya terlebih dahulu. Lebih baik Hen Li menyimpan tenaga untuk membawa semua perlengkapan nanti sore ke gedung pernikahan. Mei Fang ingin berhemat, tidak ada ongkos transportasi untuk projek tersebut.


Aroma dupa dari kejauhan semakin mendekat–pertanda Nenek Jiu datang. Tirai kain di belakang kasir terbuka dengan sendirinya seiring Nenek Jiu melewatinya. Ia memberikan kantong kain berukuran sekepal tangan pada Mei Fang.


“Pesanan Kakek Lay, tolong nanti berikan. Hanya bisa dipakai satu kali. Pesanku … gunakan dengan bijak di waktu dan tempat yang tepat.”

Lihat selengkapnya