Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #5

Kertas Merah

Hen Li mengeluarkan dompet kulit dari saku–di sana tersimpan foto lama ayah dan ibunya, serta wajah bocahnya dengan senyum kaku. Ia menekan-nekan permukaan dompet itu dengan ibu jari, seperti menghapus debu yang tidak ada. Ia sebenarnya penasaran mengapa ayahnya berpisah dengan ibunya, tetapi entah mengapa, ia juga enggan bertanya langsung.


Ia sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi ayahnya. Hanya ada dua: menyuruh Hen Li tidak mencari tahu dan mengurusi saja bisnis ayahnya, atau diam saja dan langsung pergi. Ayahnya selalu begitu sejak dulu, mangkanya Hen Li kurang merasa dekat secara emosional. Mangkanya … Hen Li kabur dari Shenzen ke Dili untuk melepas rindu pada ibunya.


Saat Hen Li menuangkan teh, uapnya tidak membentuk kepulan seperti biasa–tapi langsung lenyap di udara, seolah ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat. Hen Li jadi teringat kalau nanti sore harus menemani Mei Fang ke gedung pernikahan. Ia harus menemui banyak orang ‘kah? Sebenarnya ia agak malas berinteraksi dengan siapapun. Tetapi jika ini salah satu syarat untuk mendapatkan informasi tentang ibunya, Hen Li rela melakukan apa saja. Demi dirinya, demi ibunya, demi keluarganya.


Hen Li mengerutkan kening saat kembali ke ruang depan dengan nampan teh. Lisa sudah pergi, padahal baru beberapa menit lalu gelak tawa gadis itu terdengar hingga dapur. Jendela toko yang tadi memantulkan cahaya pagi kini berwarna jingga muda, seolah waktu melompat delapan jam dalam sekejap. Jam dinding berdenting tujuh kali, tapi jarum pendeknya masih menunjuk angka tiga dengan malas. “Kenapa Lisa sudah–.”


Mei Fang menyambar nampan dari tangannya sebelum ia menyelesaikan kalimat. “Kita harus berangkat sekarang,” ujarnya dengan suara datar, menunjuk ke sepeda keranjangnya yang terparkir lama menanti. Keranjang depan sudah dipenuhi buket bunga lili dan bros-bros artifisial yang berkilau. Hen Li ingin bertanya bagaimana bisa hari berlalu begitu cepat, tapi langit yang tiba-tiba mendung membuat mulutnya terkunci. Ada yang salah dengan waktu hari ini, dan Mei Fang jelas tak berniat menjelaskan.


Hen Li mengayuh sekuat tenaga hingga menggertakkan gigi. “Apa aku seberat itu?” tanya Mei Fang polos dan kelihatan tidak terganggu. Pemuda itu tidak menjawab dan terus melaju secepatnya, ia juga tidak ingin kehujanan konyol.


Lihat selengkapnya