Tiga buket bunga dengan kertas biru, hijau, dan merah muda bersandar tenang di keranjang depan sepeda. Berbekal secarik kertas bertuliskan alamat masing-masing penerima buket tersebut, Hen Li mengantar mereka. Bunga Lily of the Valley berwarna putih yang dikeringkan memeluk sang pemiliknya, seorang pria yang ingin melamar sang kekasih. Bunga anggrek bulan dipesan oleh sepasang suami-isteri berumur senja untuk digantung di teras rumah. Terakhir, bunga Mei Hwa artifisial yang tampak nyata diterima oleh seorang anak kecil. Ia langsung berlari-lari kecil ke rumahnya setelah memeluk bunga yang lebih besar dari tubuhnya.
Hen Li menghela napas lega karena semua pesanan bunga sudah diantar dengan selamat. Sekarang waktunya ke Klenteng Dili. Mei Fang bilang kalau tempat suci tersebut tidak jauh dari laut. Semakin terik matahari artinya semakin dekat ia dengan lokasi.
Seorang pria yang tidak asing sudah menunggu Hen Li di depan gerbang merah. Walau samar, Hen Li yakin kalau Kakek Lay tersenyum padanya. Senyum seperti bulan sabit di balik awan. Ia mengelus-elus jenggotnya sesekali sampai Hen Li tiba.
"Selamat datang di Klenteng Guan Di, Xiao Di!" sambut Kakek Lay.
Ada pertanyaan menggantung di lidahnya, namun Hen Li mengurungkan niatnya. "Terima kasih."
"Ayo masuk! Aku akan mengajak kau berkeliling!" Kakek Lay menepuk punggung Hen Li yang lebih tinggi darinya 10 sentimeter. "Dan aku akan menunjukkan di mana saja ibumu sering berada," bisiknya lalu terkekeh. Aroma kacang tanah rebus menguar sebagai penutup.
Klenteng Guan Di hanya satu lantai dan bercat serba merah di sana-sini. Pagarnya berpadu dengan warna hijau zamrud, tampak serasi dengan merah menyala. Ada empat area terpisah yang paling kelihatan perbedaan fungsinya. Area registrasi tamu, tempat sembahyang, papan petunjuk dewa, dan bangunan kecil tempat tinggal Kakek Lay.
Mereka berjalan mendekati seorang laki-laki yang tampak sebaya dengan Hen Li. Ia sedang mencatat beberapa hal di bukunya dan tidak menyadari kehadiran mereka. Kakek Lay tampak tidak terganggu, ia memulai cerita tentang sejarah Klenteng Guan Di.
"Tahun 1928 klenteng ini berdiri dan aku lahir di sini. Kau sudah lahir belum?" Kemudian ia tertawa sendiri. "Ibumu datang ke sini tahun ...," Ia mengelus jenggotnya, mencoba mengingat-ingat. "1991 ... tahun itu ... kau tahu kalau Dili sedang kena sial saat itu?" Hen Li menggeleng. "Ada sebuah peristiwa menyedihkan. Hm, aku sedang tidak ingin membahasnya. Lain kali saja."
Hen Li meraih pundak Kakek Lay yang hendak melanjutkan tur kelilingnya. "Tunggu." Kakek Lay menoleh sedikit. "Aku dengar kalau tahun segitu, aku sedang bersama ibuku. Apa itu benar? Kakek melihatku?"
Tanpa aba-aba, Kakek Lay seolah memberi isyarat untuk mengikutinya. Ia berhenti di teras rumahnya. "Ya, kau ada bersama Xue Lili. Bukan hanya kalian, Mei Fang dan Nenek Jiu juga ada." Hen Li terbelalak. "Itu pertama kalinya kalian berkenalan."
"Apa maksud Kakek?"