Sejak datang ke Klenteng Guan Di, ada perubahan pada keseharian Wang Hen Li. Selama 1 minggu ini, ia lebih rajin mengantar bunga—bukan hanya untuk menggantikan Mei Fang—tetapi ia memiliki tujuan khusus. Setelah bekerja, ia akan mampir ke klenteng, bertemu Kakek Lay, dan membantu persiapan Ceng Beng. Kesibukan menenggelamkan gundah gulananya mengenang sang ibu. Ia lebih ceria dan mulai terbiasa dengan kehidupan masyarakat Dili, Timor Leste, khususnya bersama orang-orang Tionghoa.
Benar perkataan Mei Fang soal Fransisco apa itu. Persiapan Ceng Beng benar-benar didukung oleh beliau dan keluarganya. Contohnya, klenteng membutuhkan stok dupa, lilin merah, kertas sembahyang, uang arwah, perlengkapan pembakaran, dan bunga, semuanya dibiayai olehnya. Bukan hanya klenteng, Pemakaman Tionghoa Dili pun menjadi sasaran dari kebaikannya. Ada pembersihan makam besar-besaran oleh komunitas dan asosiasi Tionghoa.
Mei-Mei Florist juga kecipratan hoki. Pesanan demi pesanan tidak henti-hentinya datang, sehingga Mei Fang tidak perlu lagi promosi sana-sini untuk sebulan ke depan. Gantinya, ia mesti bolak-balik ke Rai Mean, meminta bantuan tukang kebun langganannya.
"Apek!" panggil Mei Fang dari kejauhan. Ia terus mengayuh sepedanya, menghampiri pria setengah abad yang asyik menyiram tanamannya dengan selang air.
Pria yang dipanggil Apek melambaikan tangan. Ia tampak bersenandung dan bergoyang sembari berpindah dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Bangunan tersebut berlapis terpal transparan, memudahkan tiap-tiap jenis bunga menyerap sinar mentari secukupnya dan melindungi dari deras hujan—disebut rumah tanaman.
"Mei Mei!"
"Apek Martin siap jadi orang kaya?" Mei Fang menyeringai. Ia menepikan sepeda keranjang birunya di pohon besar, hanya beberapa langkah dari rumah tanaman.
Apek Martin menyipitkan mata, curiga. Bibirnya sedikit mengerucut ketika mendengarkan kata 'kaya', 'uang', atau 'pemerintah'. Tiga kata itu tidak akan pernah netral di pendengarannya.
"Mei Mei, kamu kejam sekali membuat pria penyakitan ini berkhayal," jawabnya setengah bercanda. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Sebentar lagi Ceng Ben, Apek."
"Lalu?"
"Selain itu ... aku dengar dari Kakek Lay kalau pemerintah ada rapat di awal April nanti." Bibir Apek Martin semakin monyong, salah satu kata haram baginya kembali disebut. "Tamunya dari luar negeri."