"Hen Li, mau temani aku ke pasar?"
"Boleh, Jose."
Jose adalah pria penerima tamu di Klenteng Guan Di. Ia keturunan Suku Tenun seperti Apek Martin. Perawakannya kurus dan tinggi yang hampir-hampir bisa ditiup angin topan. Meskipun baru beberapa bulan bekerja di klenteng, ia cepat belajar dan sangat menuruti nasihat Kakek Lay.
"Tunggu," sergah Kakek Lay, entah muncul dari mana. "Biar Xiao Di tetap di sini. Aku butuh bantuan membersihkan perpustakaanku."
Jose mengangguk pelan dan berlalu. Ia membawa keranjang plastik yang kira-kira dapat memuat empat semangka sekaligus. Biasanya ia akan pulang sore kalau sudah membawa keranjang sebesar itu.
Kakek Lay mengawasi Jose sampai keluar dari pintu gerbang klenteng. Setelah itu memberi isyarat pada Hen Li untuk mengikutinya ke rumah. Hen Li tidak berani bertanya apa-apa kali ini. Ia merasakan aura yang sedikit berbeda pada Kakek Lay.
Tempat tinggal Kakek Lay tidak begitu besar. Hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruangan bersantai di mana dua rak buku raksasa terpampang nyata. Raknya hampir menyentuh langit-langit rumah dan isinya penuh dengan buku tebal maupun tipis.
"Buku-bukuku sudah berdebu, Xiao Di." Kakek Lay mengambil salah satu buku secara acak dan mengelap pinggirannya dengan jari telunjuk. "Lihat." Ia mendekatkan jarinya ke depan hidung Hen Li. "Tolong bantu bersihkan ya," pintanya memelas.
"Baik," jawab Hen Li seadanya. Ia penasaran apa saja isi dari buku-buku di hadapannya, sehingga Kakek Lay mengoleksi sebanyak itu. Hen Li menebak ada sekitar 500 buku yang tersusun di sana dan menunggu untuk dibaca. Ia membayangkan kertas-kertas itu sedang menangis karena mulai dilupakan pemiliknya. Apa Kakek Lay benar-benar membaca semua buku ini?
"Ambil saja airnya di kamar mandi dan kain lap di dapur. Selebihnya terserah kau, Xiao Di." Kakek Lay meninggalkan Hen Li sendiri di rumahnya. Hen Li melakukan sesuai arahan.