"Kakek apakah tahu kalau Nenek Jiu dua hari ini belum pulang?" tanya Wang Hen Li membuka percakapan. Mereka berdua kini tengah menikmati teh bunga krisan sambil bersantai di teras rumah.
"Ya, dia sedang ada urusan di Tasitolu," jawab Kakek Lay tanpa melepaskan pandangannya dari seekor kucing hitam yang lewat.
"Urusan ... macam apa?"
Yang ditanya kembali menyeruput tehnya dengan gerakan elegan. Lagi-lagi, ia terpaku pada kucing hitam yang kini berguling-guling di rerumputan. "Kau tahu siapa dia sebenarnya, Xiao Di?"
Hen Li menatap langit-langit, mencari jawaban. Sebenarnya, ia bisa saja jawab 'dukun' atau 'orang sakti', tetapi ia ingin Kakek Lay yang memberi tahunya. "Pemilik toko bunga?"
Kakek Lay menutup kelopak matanya beberapa detik sebelum berpaling pada pria muda di sebelahnya ... yang sedang nyengir. "Xiao Di, Nenek Jiu adalah penjaga gerbang yang bertugas menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia arwah." Hen Li tidak bereaksi besar dan hanya mengangguk-angguk. "Kau ingat kantong yang pernah diberikan Xiao Mei?"
Ini dia yang Hen Li nanti-nantikan. "Ingat, Kek. Itu sebenarnya kantong apa?"
"Namanya ramuan Tiga Daun Selatan. Teratai, sirih, dan pinang. Fungsinya ...."
"Fungsinya?"
"Untuk bertemu orang yang telah meninggal." Hen Li terbelalak. "Tapi hanya beberapa jam saja," tambah Kakek Lay cepat-cepat sebelum harapan Hen Li melambung tinggi.
"Serius, Kek? Aku bisa bertemu dengan ibu kalau memakai ramuan itu?" Mata Hen Li berbinar-binar seperti anak anjing. Kontras dengan kucing hitam tadi yang kini memicing kepadanya.
"Ya, ya. Kau mau coba buat, Xiao Di?" Kakek Lay menuangkan kembali teh krisan ke seluruh cangkir.
"Sebenarnya aku tadi me—."
"Mencuri bukuku?" Kakek Lay mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Hen Li dengan senyum jail.