"Jaga toko dulu ya, Hen Li. Aku mau mengantar pesanan," pamit Mei Fang. Tidak lupa ia mengambil tas kanvas putih dengan bordir bunga Mei Hwa kesayangannya, lalu melesat pergi.
Hen Li tersenyum. "Ini saatnya."
Ia berjingkat-jingkat mendekati altar tempat sembahyang yang berada di antara kamar Nenek Jiu dan dapur. Dengan ukurannya yang pas dapat memuat beragam macam: 5 batang hio merah yang menyala, 1 lilin merah seukuran gelas, 1 cangkir teh kecil dari porselen dan bercorak aksara mandarin, vas kaca bening dengan beberapa tangkai bunga Sedap Malam, dan beberapa ornamen yang menyempurnakannya. Kantong-kantong kain seukuran bola pingpong menarik perhatian Hen Li.
"Inikah xiang bao?" Ia mengambil salah satunya yang berwarna merah. Ada tali pengikat di bagian atas dan tali lainnya untuk menggantungkannya.
Hen Li menarik tali untuk membuka bagian dalamnya. Ada beberapa potong kulit jeruk mandarin yang sudah kering dan kelopak bunga Mei Hwa yang telah layu. Ia mengecek semua kantong yang ada dan hasilnya sama.
"Ini sudah tidak bisa dipakai 'kan?" Ia bertanya-tanya sendiri sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hen Li, kamu sedang apa?" Suara Mei Fang memecah keheningan seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang.
Tubuh Hen Li menegang. Ia berbalik dan menyembunyikan xiang bao di balik punggungnya. "Kamu sudah pulang, Mei Fang? Cepat banget."
Mei Fang mengangguk dengan wajah ingin tahu. Kepalanya mendekat dan berusaha mengintip apa yang disembunyikan Hen Li. "Kamu mengambil sesuatu ya dari altar?" tebaknya.
Sepertinya tidak berguna lagi jika sudah ketahuan begini. Hen Li pun mengulurkan telapak tangannya, mengaku salah. Tangan kanannya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Xiang bao?" Hen Li mengangguk. "Buat apa?"
"Kata Kakek Lay untuk menolak bala dan membawa keberuntungan." Kini ia menggaruk lehernya yang sedikit gatal. "Bukannya kamu yang kasih saran untuk bawa xiang bao kemana-mana?"