"Sudah siap?" tanya Mei Fang. Ia telah mendirikan sepeda keranjangnya dengan gagah, siap melaju. Hen Li mengangguk. "Xiang bao-nya sudah dibawa?" Hen Li mengangkat tinggi-tinggi kantong kain seukuran bola pingpong. "Anak pintar."
Mei Fang melompat ke bangku belakang sepeda setelah Hen Li mengayuhnya. Kemarin Mei Fang mengajak berkeliling kota, melihat-lihat persiapan Ceng Beng yang diadakan oleh Timor Chinese Association (TCA) atau Asosiasi Tionghoa Timor. Hari ini mereka sama-sama memakai kaos lengan pendek dilapisi jaket tipis, merespons terik mentari yang semakin menjadi-jadi di musim kemarau.
Klenteng Guan Di adalah tujuan pertama mereka. Sekitar 15 orang, entah laki-laki maupun perempuan, entah tua maupun muda mengisi keranjang bambu dengan aneka perlengkapan: hio, lilin merah, tempat dupa, korek api, dan kertas sembahyang. Mereka melakukannya dengan teratur, tanpa terburu-buru, menikmati tiap langkah dan merenungi tiap benda yang digenggam.
Di bagian luar keranjang bambu, tersusun ember-ember yang telah diisi dengan peralatan membersihkan makam. Mulai dari sapu, sekop kecil, gunting rumput, kain lap, cat serta kuas kecil yang masing-masing memiliki fungsi. Total keranjangnya sekitar 400 buah yang dijajarkan di lapangan klenteng berukuran 15 x 15 meter.
"Siang, Jose," sapa Hen Li.
Jose mengangguk lalu fokus mencatat sesuatu di bukunya. Ia tampak menikmati kegiatannya sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Mei Fang di sebelah Hen Li. Setelah itu, ia bergegas membantu anggota TCA menggelar terpal biru, guna melindungi keranjang-keranjang yang telah tersusun.
"Sibuk sekali ya mereka." Matanya sambil mencari-cari sosok yang tidak ada. Tumben sekali Kakek Lay tidak kelihatan di klenteng, padahal sedang ramai.
"Aku kenalin kamu ya sama mereka?"
"Eh? Boleh sih," jawab Hen Li ragu. Sejujurnya, ia tidak terlalu tertarik. Sudah dua minggu ini ia sibuk membantu, nanti kalau kenalan takutnya malah disuruh-suruh. Ia benar-benar ingin beristirahat sejenak.
Mei Fang memperkenalkan Hen Li pada kenalannya di TCA. Mereka berbasa-basi sebentar, sebelum akhirnya berpamitan. Mei Fang berjanji akan menyiapkan bunga-bunga segar dan buket-buket menawan untuk Ceng Beng nanti. Sesuai permintaan pelanggannya. Janjinya disambut meriah oleh anggota TCA.
Diam-diam, ketika sepasang anak muda itu tidak melihatnya, para anggota TCA saling melempar senyum dan bertatap-tatapan seolah tahu apa yang ada di pikiran masing-masing. Tanpa janjian, mereka sepakat kalau sepasang anak muda tersebut terlihat cocok saat bersama. Saling melengkapi: si ceria dan si kikuk.
"Mau ke pantai?"
"Pantai?"
Mei Fang menuntun sepedanya, memberi isyarat pada Hen Li untuk mengikutinya. "Ada di dekat sini. Namanya Pantai Palacio."
"Boleh." Hen Li mengambil alih sepeda. "Aku bonceng."
Rentetan awan menaungi mereka, melindungi dari sengatan matahari. Dari kejauhan, mereka telah dapat menikmati cahaya lautan yang mengkilap-kilap. Beberapa kapal nelayan terlihat makin mendekat, pertanda hendak pulang ke pelabuhan. Pasir pantainya putih kecokelatan menggoda untuk disinggahi lama-lama.