Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #14

Ritual Menyapu Jalan Roh

Pagi-pagi buta, altar sembahyang di Mei-Mei Florist telah menyala-nyala. Asap dupa meliuk-liuk mengikuti arah angin dan wewangian buah-buah segar saling terpikat satu sama lain. Xiang bao yang tergantung beberapa hari lalu masih mengeluarkan wangi manis tipis, pertanda racikannya masih ada, belum menguap.

Nenek Jiu dengan hanfu biru tua tampak melipat tangan, berdoa, di depan altar. Sudah sekitar 30 menit, ia tidak bergerak sama sekali. Bibir keringnya berkomat-kamit, melafalkan puji-pujian kepada Shangdi atau Tuhan. Ia tiba di rumah kemarin malam, tepat satu minggu ia pergi ke Danau Tasitolu.

Tubuhnya tidak ada perubahan berat badan, baik itu turun maupun naik. Ia seolah-olah tidak pernah keluar rumah selama satu minggu ini, tetapi faktanya ia telah bepergian tanpa diketahui kegiatan apa saja yang telah dilaluinya. Mei Fang, apalagi Hen Li tidak berani bertanya. Mereka bersikap seperti tidak ada apa-apa, terutama Mei Fang sudah terbiasa, sedangkan Hen Li belum.

Nenek Jiu menarik napas panjang, meresapi tiap-tiap aroma yang bergelantungan di udara rumah itu. Mulai dari sudut dapur, ruang berkumpul, kamar mandi, kamar Hen Li, kamar Mei Fang, kamarnya, dan toko bunga. Ia memeriksa tiap-tiap sudut memiliki aroma yang masih sama seperti sebelum dia pergi. Jika ada perubahan sekecil apa pun, ia akan tahu.

Matanya tertutup, berkonsentrasi, sedangkan lubang hidungnya terbuka lebar-lebar sambil mengangkat dagu. Satu, dua, tiga, empat, lima. Aroma bunga-bunga yang biasanya ada di toko dan jeruk Mandarin membentuk partikel unik sebelum sampai di benaknya. Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Ada sedikit bau gas, bumbu-bumbu masak, dan percikan api yang biasanya ditemukan di dapur. Sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas. Kayu jati, osmanthus, mugwort, cendana, dan kayu manis. Bahan-bahan untuk xiang bao.

"Menarik," gumamnya, tanpa membuka mata sedikit pun. Ia tidak tersenyum tetapi bola mata di dalam kelopaknya bergerak-gerak. "Apa lagi yang bisa ku temukan?"

Beberapa aroma camilan mulai terasa, pertanda ada tamu lain datang ke rumah. Nenek Jiu sudah bisa menebak siapa itu. Namun bukan hanya itu, tamu tersebut sepertinya bertalian dengan sesuatu dalam dirinya. Ia tidak yakin apa itu, tapi ada suatu firasat kalau lama-lama bisa menyeret dirinya juga. Ia harus hati-hati.

Lihat selengkapnya