Ritual Menyapu Jalan Roh dilakukan selama 7 hari berturut-turut hingga Ceng Beng tiba. Di hari perayaan, Nenek Jiu beristirahat. Ia hanya duduk di bangku bambu tua yang ada di teras. Bantal bordir motif bunga tampak jadi sandarannya. Ia memperhatikan Mei Fang yang tampak sibuk dengan bunganya, membagi-bagikan buket bunga pada setiap tamu yang datang.
Bunga-bunga itu telah dibayar oleh Keluarga Lay—keluarga Kakek Lay bersama Francisco Kalbuadi Lay, salah satu pejabat keturunan Tionghoa. Para tamu mengambilnya secara gratis, di mana mereka juga telah menenteng keranjang bambu dan ember yang dibawa dari klenteng. Mereka berjalan bersama-sama menuju Pemakaman Tionghoa Dili untuk membersihkan makam—tidak ada satu pun batu nisan yang akan tertinggal.
Ketika tamu yang datang semakin sedikit, tiba-tiba decit sepeda direm terdengar. Pria berbadan tambun turun dari jok sepeda, menenteng goodie bag kain. Mei Fang menyambut dengan senyuman semringah. Apek Martin menepati janjinya.
"Apek! Wah, aku rindu!" pekik Mei Fang.
Yang disambut hanya tertawa. Tangannya ditarik masuk menuju teras, dibawa ke Nenek Jiu. "Apa kabar, Martin?"
"Begini-begini saja. Nainai sendiri?"
"Aku minggu lalu ke Danau Tasitolu." Alis Apek Martin terangkat. "Aku menggunakan Resonansi Batin dan ...," Pria itu menahan napasnya, menunggu kelanjutannya. "Menemukan istrimu." Ia menghembus napas, lega.
"Jadi, kapan aku bisa menggunakan Tiga Daun Selatan?" tanyanya dengan penuh semangat. Ini kesempatan yang tidak datang dua kali.
"Besok malam. Kau siap?"
"Lebih dari siap."
"Manfaat setiap momen. Jangan sia-siakan sedetik pun," titah Nenek Jiu.
Apek Martin baru tersadar ada benda yang belum ia serahkan. Ia memberikan goodie bag kain yang dipeluknya sejak tadi kepada Mei Fang. Penerimanya dengan lekas membuka hadiah tersebut.
Sulur-sulur tanaman menjuntai dari bibir pot tanah liat seperti benang hijau keperakan yang tak berujung. Di sepanjangnya, daun-daun mungil berbentuk hati bergelantungan berpasangan, seolah seseorang dengan sabar merangkai kalung dari potongan zamrud dan perak. Saat angin lewat barusan, untaian itu bergoyang pelan, menciptakan bayangan kecil yang menari di dinding.