Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #16

Ritual Danau di Malam Hari

"Kok kamu ada di sini?" tanya Hen Li pada Lisa yang datang tanpa diundang, persis sebelum mereka semua berangkat ke Danau Tasitolu.

"Honey bunny sweety yang mengajakku. Ada masalah?" jawab Lisa sinis.

Kemarin di Klenteng Guan Di, Mei Fang memang bertemu dengan Lisa dan mereka saling bercerita. Tiba waktunya, ketika Mei Fang bilang kalau ia akan pergi ke Danau Tasitolu. Tanpa aba-aba, Lisa semangat ingin ikut. Tetapi mendapatkan persetujuan Nenek Jiu tidak semudah itu. Lisa mesti menyogoknya dengan ini dan itu—apa-apa saja yang membuat perempuan tua itu terkesan. Pastinya, Mei Fang tahu rahasianya.

Hen Li merasa ini tidak adil. Sedangkan ia harus memberanikan diri berminggu-minggu untuk meminta izin pada Nenek Jiu. Ia menatap Mei Fang tajam. Yang ditatap pura-pura tidak mendengar keributan kecil tersebut dan malah asyik menyusun bekal untuk mereka semua.

Apek Martin sudah datang sejak satu jam lalu. Ia yang paling bersemangat di antara mereka semua. Ia telah menyiapkan sebuah buket bunga raksasa yang dirangkai sendiri dengan jemarinya yang besar-besar. Mungkin bukan buket bunga terindah, tetapi buket bunga paling tulus yang pernah ada.

Nenek Jiu membagikan xiang bao dengan warna yang beragam kepada mereka masing-masing. Mei Fang, merah. Lisa, kuning. Apek Martin, hijau. Hen Li, biru. "Jangan sampai jatuh."

Tatapan Nenek Jiu dan Lisa beradu. Yang lebih muda mengangguk terlebih dahulu, diikuti yang lebih tua. Lisa sudah tahu perjanjian yang mesti ia ikuti, jika ia ingin ikut ke Danau Tasitolu. Lagipula alasannya kuat yaitu ingin mengumpulkan data penelitian. Tetapi syaratnya adalah ia tidak berada di lokasi ketika ritual Tiga Daun Selatan diberlakukan. Lisa akan menelusuri danau di bagian seberang.

Hen Li tidak dapat berhenti mengusap lengan kanan dan kirinya. Kakinya sesekali ia ketuk-ketukkan ke lantai. Ia berkeringat dingin.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Mei Fang khawatir.

Hen Li tidak menjawab. Ia hanya menatap rambut berkepang-kepang perempuan itu. Tali pita putih yang dililit mengikuti lekukan demi lekukan rambut tampak bersinar.

Mei Fang menggenggam telapak tangan Hen Li. Dingin. Cepat-cepat ia menarik Hen Li ke dapur, menghangatkan diri dekat kompor.

"Ada apa, Hen Li?" tanyanya sekali lagi.

"Entahlah. Tapi aku merasa tidak enak badan."

"Tiba-tiba aja? Atau sudah dari tadi?"

"Tiba-tiba aja."

Mei Fang mengelus dagunya sepersekian detik, sebelum ia mematikan kompor. Ia menghangatkan air dan menuangkannya ke gelas. Hanya air biasa, bukan teh seperti kemarin-kemarin.

"Minumlah."

Pria pucat itu menurut. Rambutnya yang mulai mendekati pundak tampak basah oleh keringat dingin. Mei Fang menyadarinya.

Lihat selengkapnya