Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #17

Misi Penyelamatan Lisa

Lisa menghilang tanpa jejak. Ia berkeliling sekitar Danau Tasitolu sendirian untuk mengamati makhluk hidup di malam hari: tumbuhan, hewan, dan kondisi danau. Tetapi kini ia seolah ditelan bumi dan yang tersisa hanya xiang bao-nya saja yang tergeletak di tempat ia berdiri terakhir kali.

Peluh memenuhi pelipis sahabatnya. Mei Fang dan Hen Li berlari cepat-cepat ke lokasi setelah mendapatkan kabar buruk tersebut. Padahal Nenek Jiu sudah memperingati untuk tidak melepaskan xiang bao selama ritual Tiga Daun Selatan berlangsung. Ada hal-hal yang hanya bisa kita turuti tanpa banyak tanya.

"Nainai! Apa yang terjadi dengan Lisa?!" Wajah pucat dengan alis terangkat terlukis pada sang sahabat.

Nenek Jiu tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, melainkan menutup kelopak matanya secara perlahan dan merasakan tekanan detik demi detik. Bola matanya bergerak-gerak di balik kelopak tersebut seolah teropong untuk mencari keberadaan Lisa. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Nenek Jiu lakukan. Mei Fang, Hen Li, dan Apek Martin menunggu dengan pandangan kosong dan tubuh menegang hebat.

"Lisa ...." Perlahan Nenek Jiu bergumam, masih dengan mata tertutup. "Dia tidak sengaja masuk ke Yin Jian."

"Kita harus menolongnya, Nainai! Sekarang!"

Hen Li belum pernah melihat Mei Fang sepanik itu selama ini. Padahal belum ada setengah jam yang lalu, mereka sedang bersantai di ruang berkumpul sambil mencukur rambut. Mei Fang masih dengan sikap anggun dan tenangnya yang biasa, sesekali melengkungkan senyum dan tertawa kecil yang entah apa maksudnya, Hen Li juga tidak tahu, tapi sepertinya gadis itu tampak bahagia.

Yin Jian adalah Dunia Gelap, tempat tinggal para roh orang yang sudah meninggal sebelum mereka bereinkarnasi atau sebelum mereka diberikan tempat yang lebih baik. Gerbang Dunia Gelap terbuka saat Nenek Jiu dan Apek Martin menjalankan ritual. Tepat ketika suami-istri itu bertemu, Lisa lenyap. Seolah gadis berambut pendek mengalami pertukaran magis karena kini sosok istri Apek Martin dengan jubah berkilauan masih ada di sana, berdiri tidak terlalu jauh dari belakang punggung suaminya.

Hen Li setidaknya mendapatkan tiga informasi mengenai ritual Tiga Daun Selatan. Pertama, dia kemungkinan besar benar-benar bisa bertemu dengan ibunya. Kedua, ada risiko terjadinya pertukaran kalau mengajak orang lain di tempat ritual. Ketiga ....

Suara sedu-sedan tiba-tiba tertangkap telinganya. Suara yang sangat familier. Ada suatu perasaan yang mendorongnya untuk tidak mengabaikan tubuh yang mulai terguncang di sampingnya itu. Ia merengkuh Mei Fang ke dalam dekapannya dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.

Sebelumnya Mei Fang yang menata rambutnya, kini Hen Li yang mengelus rambut gadis itu. Sebelumnya ia yang digenggam tangannya, kini ia yang menggenggam. Hangat. Telapak tangan Mei Fang sehangat hatinya.

Nenek Jiu memerintahkan Apek Martin untuk memulai ritual Tiga Daun Selatan lagi. Ada alasan mengapa ritual tersebut dilakukan pada tengah malam. Energi Yin sedang berada di puncak-puncaknya. Keberadaan danau yang airnya tenang pun dianggap sebagai cermin yang memisahkan dunia nyata dan Yin Jian.

Lihat selengkapnya