Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Awal bulan Februari 2009. Festival Yuanxiao atau lebih dikenal sebagai Festival Cap Go Meh.
"Yi Ming, Hu Hang, kalian sudah menyiapkan apa yang ku minta minggu lalu?" Yang bertanya adalah Wang Hen Li, putra dari salah satu taipan properti terbesar di Provinsi Guangdong yakni Tuan Wang.
Yi Ming menyerahkan dua lembar tiket pesawat untuk pulang-pergi. Tujuannya adalah Bandar Udara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Timor Leste. Tanggal keberangkatannya ... tiga hari lagi. Selain itu, ia juga mengeluarkan map plastik berisi dokumen perjalanan, paspor berwarna merah marun, dan beberapa keperluan administrasi lainnya.
"Tuan, saya sudah mengurus surat izin cuti sakit dan mengirimkannya langsung ke pihak administrasi The University of Sydney. Semua prosedur sudah beres," lapor Yi Ming dengan nada rendah penuh keyakinan.
"Bagus. Untuk tiga bulan 'kan?"
"Benar, Tuan. Karena jarak antara Timor Leste dan Australia juga dekat, jika Tuan Wang mencurigai sesuatu, Anda bisa langsung berangkat ke Sydney dan sampai dalam beberapa jam."
"Lalu apa saja yang kamu temui, Hu Hang?"
Hu Hang menyerahkan amplop cokelat dengan ketebalan sekitar 3 cm. Tidak ada petunjuk apa pun di bagian luar yang memberi tahu apa isi di dalamnya, namun Hen Li sudah tahu apa itu. Segala sesuatu mulai dari hal yang paling besar hingga hal paling kecil tentang ibunya, Xue Lili.
"Saya sudah mengumpulkan apa yang saya bisa, Tuan. Saya memeriksa setiap sudut rumah Tuan Wang, bertanya kepada para pelayan dan penjaga yang sudah lama bekerja di sana, dan bahkan melalui hal yang tidak terduga," kata Hu Hang dengan sengaja menggantung kalimat terakhirnya.
"Hal tidak terduga apa itu?" tanya Hen Li penasaran.
"Saya ke rumah sakit di mana tempat Tuan dilahirkan dan memeriksa beberapa catatan imigrasi," jelas Hu Hang dengan nada bangga.
"Kalian berdua benar-benar bisa diandalkan. Terima kasih, Yi Ming, Hu Hang," ucap Hen Li bergantian sambil menatap para ajudannya dengan penuh kekaguman.
"Tuan, Anda yakin untuk berangkat sendirian ke tempat terpencil itu? Sejujurnya, saya khawatir."
Hen Li menepuk pundak Yi Ming dengan cukup keras. "Tenang saja. Aku sudah berusia 22 tahun sekarang." Ia menggoyangkan telunjuk di depan hidung ajudannya yang hanya lebih tinggi 5 cm darinya. "Jangan anggap aku anak kecil lagi ya."
"Rasanya baru kemarin kami berdua melihat Tuan Muda berlari-larian di halaman rumah sambil bermain dengan kucing hitam." Tiba-tiba saja suasana hati Hu Hang menjadi lebih melankolis dan nada suaranya seperti dibuat-buat agar momen tersebut lebih mengharukan.