Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #19

Hari Kedua Sebelum Keberangkatan

Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Awal bulan Februari 2009. Festival Yuanxiao atau lebih dikenal sebagai Festival Cap Go Meh. Hari kedua sebelum keberangkatan Wang Hen Li ke Timor Leste.

Hen Li tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia kembali memencet-mencet nomor yang ia dapat dari hasil main detektif-detektifan di ruang kerja ayahnya selama sebulan terakhir. Nomor ibu—atau nomor Mei Fang, gadis yang mengaku-aku sebagai anak ibunya.

Dering pertama, tidak ada jawaban. Dering kedua, ketiga, keempat, kelima ... dan ... klik. Suara yang ia baru kenal kemarin muncul lagi di gendang telinganya. Suara yang entah mengapa sudah semakin familier. Suara yang membangkitkan ingatan masa kecilnya.

"Ya?"

Hen Li menarik napas sebelum ia membalasnya, "Aku akan datang ke tempat Xue Lili lusa nanti." Ia berusaha terdengar semeyakinkan mungkin untuk menunjukkan dominansinya.

"Dili? Timor Leste? Anda yakin?" tanya Mei Fang, dari caranya bertanya seolah menguji kesungguhan Hen Li.

"Iya. Saya sudah membeli tiket pesawat," jawab Hen Li dengan bangga.

"Terserah anda saja." Hen Li menebak kalau Mei Fang mengatakan kata-kata tersebut sambil mengangkat bahunya. "Tapi jangan berharap terlalu banyak."

"Apa maksud anda?"

Seperti ada helaan napas berat di ujung telepon sana, sebelum akhirnya Mei Fang berkata, "Xue Lili sudah tiada."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari seberang sambungan, ringkas namun telak, menghantam kesadaran Hen Li tanpa ampun. Udara di ruang tamu mendadak terasa hampa, menyisakan denging asing yang berdengung kuat di kedua telinganya. Ia tertegun di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu dan otaknya menolak mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.

Apakah ini cara gadis itu menyingkirkannya? Menjauhkannya dari ibu kandungnya sendiri? Apakah ini bagian dari taktik murahan untuk melarangnya datang ke negara kecil di Asia Tenggara tersebut?

Kakinya mendadak kehilangan seluruh tenaganya, lemas seketika. Hen Li jatuh terduduk di atas sofa ruang tamu, menatap kosong ke arah lantai marmer di hadapannya sementara ponsel berdinding stainless steel itu masih menggantung lemah di genggaman tangannya yang terkulai.

"Halo?" Suara samar-samar Mei Fang terdengar. "Anda masih di sana?"

Hen Li memutar kembali rekaman ingatannya dalam beberapa tahun belakangan ini. Ia sudah bersusah payah mengumpulkan informasi sekecil apa pun tentang ibunya dan keberadaannya. Sudah 12 tahun ia tidak bertukar surat lagi dengan ibunya, entah mengapa ibunya berhenti berkomunikasi dengannya. Tanda tanya besar bersarang lebih dari satu dekade di dalam hatinya dan ayahnya sama sekali tidak mau menjawab apa pun pertanyaan Hen Li tentang ibunya.

Ia bersekolah dengan sebaik mungkin untuk menyenangkan hati ayahnya, siapa tahu dengan begitu, hati ayahnya akan melembut dan membiarkan Hen Li bertemu dengan ibunya lagi. Tetapi nihil. Ayahnya sama sekali tidak peduli dengan ibunya, yang ia pikirkan hanyalah uang dan kekuasaan. Hanya Yi Ming dan Hu Hang yang dapat diandalkan, yang ia percayai.

Lihat selengkapnya