Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Awal bulan Februari 2009. Festival Yuanxiao atau lebih dikenal sebagai Festival Cap Go Meh. Hari pertama sebelum keberangkatan Wang Hen Li ke Timor Leste.
Tidak ada yang tertinggal, Hen Li sangat yakin. Seluruh kebutuhannya selama 3 bulan ke depan sudah ia siapkan dengan baik di dalam sebuah koper besar. Ia tidak mau repot-repot membawa banyak tas atau koper, cukup satu namun bisa memuat segalanya. Ia melirik kembali tas selempang yang kelihatannya dapat memuat laptop berukuran sedang. Seingatnya di dalam sana sudah ia masukkan dompet, ponsel, buku catatan dan pulpen, serta amplop cokelat pemberian Hu Hang. Ia berencana membaca kembali satu per satu informasi yang ada di amplop tersebut, walau ia sudah menelusurinya berkali-kali. Tidak ada informasi sekecil apa pun yang boleh tertinggal.
Hen Li sebenarnya mau menghubungi Mei Fang kembali, namun ia mengurungkan niatnya. Setelah kemarin sudah berjam-jam mereka bercakap-cakap dan merasa lebih dekat karena bernostalgia bersama, ia tidak tahu lagi topik apa yang mesti diangkat. Ia memilih untuk banyak beristirahat karena esok akan menjadi hari yang panjang ... 15 jam di atas udara melintasi Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, dan Samudera Hindia menuju sebuah negara di bagian utara Australia.
Entah apa yang akan dirinya lakukan pertama kali ketika menginjakkan kaki di negara tersebut. Pertama-tama, ia akan berziarah ke makam ibunya, Xue Lili. Lalu ... entahlah ... apa yang harus ia lakukan di kota Dili selama tiga bulan? Apa ia langsung saja pergi ke Sydney dan fokus pada kuliahnya? Hm ... padahal ia ingin sekali bercengkerama dengan ibunya seandainya beliau masih ada. Tetapi harapan itu mesti pupus seketika ketika Mei Fang memberikan cermin kenyataan padanya dan dirinya sekarang benar-benar mempercayai kata-kata gadis yang baru dikenalnya itu.
"Aku akan menjemput kamu di bandara nanti," kata Mei Fang kemarin.
"Apa tidak merepotkan? Aku datang sendiri saja ke rumahmu."
"Tidak apa-apa. Bibi Xue Lili juga ku rasa akan lebih senang jika begitu," tebak Mei Fang. "Oh iya, Nainai ada menitip pesan untukmu."
Nainai atau Nenek Jiu adalah nenek dari Mei Fang sekaligus orang yang menerima Xue Lili untuk tinggal bersamanya selagi beliau hidup. Menurut Hen Li, Nenek Jiu menjadi salah satu orang yang berjasa dalam hidup ibunya sehingga ia pun juga turut menghormatinya walau tidak ingin pernah bertemu dengannya. Kira-kira pesan apa itu?
"Yī lù shùnfēng. Semoga angin selalu meniup searah perjalananmu."
Hen Li terdiam sejenak meresapi makna ungkapan tersebut. Pepatah yang sebenarnya cukup sering ia dengar saat seseorang hendak melakukan perjalanan. Yī lù shùnfēng ya ... padahal ia akan naik pesawat. Ia tersenyum ringan lalu membalas, "Terima kasih." Apa ada lagi pesan untuknya dari Nenek Jiu? Ia penasaran.
"Tidak ada, hanya itu. Kenapa?" tanya Mei Fang.
Hen Li menggeleng. Hanya saja ia merasa ada yang mengganjal dari pesan sebelumnya, seperti ada yang terputus ... tapi entah apa. "Lupakan saja. Oh iya, nanti ajak aku jalan-jalan ya waktu di sana."
Mei Fang tertawa. "Pasti! Nanti kita ke klenteng, pantai, hm ... aku juga ingin kenalin kamu sama seseorang." Ia seolah sambil menghitung dengan jarinya, tempat-tempat apa saja yang akan mereka kunjungi.
"Siapa?"