Tubuhnya yang selama 3 hari ini tidak banyak bergerak tiba-tiba saja menunjukkan perubahan yang signifikan. Hen Li membuka matanya dan mendapati Mei Fang tersenyum padanya dengan mata berbinar. Ada sebuah helaan napas ringan yang mengiringi pemuda itu sembari ia terduduk di atas kasurnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar," kata Mei Fang. Ia memeluk Hen Li sekilas dan menyentuh pinggiran wajah Hen Li untuk memastikan bahwa pemuda itu benar-benar sudah siuman.
"Memangnya apa yang terjadi padaku?"
"Setelah ritual untuk membawa Lisa pulang, tiba-tiba aja kamu ambruk dan tidak sadarkan diri." Ia menunjuk dada Hen Li. "Aku khawatir tahu."
Hen Li menerawang langit-langit kamarnya, mengingat-ingat apa yang terakhir kali terjadi padanya. Namun, bukan itu yang paling penting saat ini. "Aku memimpikanmu."
Mei Fang terkesiap dan pipinya sedikit merona. "Mimpi apa?"
"Aku rasa itu bukan cuma mimpi, tapi memang benar-benar terjadi sebelum aku ke tempat ini. Waktu aku masih di Shengzen."
Mei Fang memberikan segelas air mineral padanya. "Lanjutkan."
Hen Li menceritakan semua yang ia ingat. Ketika mendengarkannya, Mei Fang hanya tersenyum dengan sorot mata yang sedih. Entah apa yang terlintas di benaknya ketika mendengarkan mimpi yang sebenarnya pengalaman di masa lalu tersebut.
Awalnya Hen Li hanya sekadar menceritakan ulang, namun di bagian akhir, nada suaranya berubah seperti ada kobaran api yang tidak terlihat di baliknya. "Karena itu ... aku ingin melakukan ritual Tiga Daun Selatan lagi untuk bertemu dengan ibuku." Ia mengangguk dan tersenyum penuh keyakinan. "Apakah kamu bisa membantuku, Mei Fang?"
Mei Fang menggeleng lemah. "Janji adalah janji. Nainai bilang kamu harus menunggu selama seratus hari."