Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #22

Tugas dari Kakek Lay

Dengan langkah yang mantap dan tangan yang mengepal, Hen Li datang ke Klenteng Guan Di. Tembok merah dan hijaunya menyambutnya dengan terpaan cahaya matahari yang hangat. Namun dalam dadanya, bergemuruh suatu hal yang lebih hangat. Sebuah tekad.

Ia menengok ke kiri dan ke kanan, mencari-cari sosok Kakek Lay, namun tidak ia temukan. Jose, pria penerima tamu sedang sibuk dengan beberapa buku yang bertumpuk di mejanya. Ia mendekati pria seusianya itu dengan langkah lebar-lebar.

"Hai, Jose," sapa Hen Li.

Jose mengangkat alisnya dan meletakkan buku yang digenggamnya. Judulnya tidak tampak jelas apa, tapi sekilas seperti ada nama bunga di sana. "Hai, Hen Li. Kamu mencari kakek?" Hen Li mengiyakan. "Kakek sedang ada urusan, sebentar lagi pulang. Kamu mau menunggu di dalam sini?"

Hen Li rasa tawaran tersebut tidak buruk. Ia juga penasaran dengan tumpukan buku yang ada di meja. Entah judul unik apa lagi yang akan dia temukan, seperti terakhir kali ia membantu Kakek Lay membereskan buku-buku di lemarinya.

Ia masuk ke ruangan dengan luas 9 meter per segi yang tidak banyak barang di dalamnya. Hanya ada meja panjang, dua kursi, lemari, sapu dan kain pel di pojok ruangan, serta galon air. Hen Li menarik kursi di sebelah Jose dan melirik judul-judul buku yang tertera.

Panduan Praktis Okulasi, Sambung Pucuk, dan Cangkok. Hidroponik Modern: Dari Hobi Skala Rumahan hingga Skala Komersial. Seni Merawat Anggrek. Teknik Budidaya Tanaman Hias Bunga Tropis yang Tahan Segala Cuaca. Semua buku ternyata tentang bunga dan cara berkebun. Buat apa Jose mempelajarinya?

Melihat Hen Li yang tampak kebingungan, Jose membuka suara. "Aku diminta kakek untuk membaca buku-buku ini. Soalnya kakek memintaku untuk membantu Apek Martin."

"Bantu berkebun?"

"Ya, begitulah."

"Kenapa?"

Jose menyentuh pelipisnya, mengingat-ingat. "Oh, ya. Banyak pesanan dari pemerintahan yang harus segera diselesaikan. Jadi, Apek Martin butuh bantuan."

"Begitu ya." Hen Li mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia mengambil salah satu buku berjudul 'Serangkai Bunga Mei Hwa.' Ia membolak-balikkan halamannya dan hanya fokus pada gambar-gambar di dalamnya. Ia agak heran untuk apa buku dengan judul tersebut ada di sana, sedangkan setahunya, bunga Mei Hwa tidak dapat tumbuh di dataran tropis seperti Timor Leste.

Lihat selengkapnya