Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #23

Pertemanan Hen Li dan Jose

"Kamu sampai larut malam di klenteng ya?" tanya Mei Fang ketika Hen Li tiba di Mei-Mei Florist.

"Iya. Kakek Lay ingin membantuku katanya," jawab Hen Li sambil tersenyum penuh kemenangan.

Gadis itu terbelalak. Benarkah itu? Ia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang Kakek Lay rencanakan?

"Apa yang Yeye katakan?" Ia mengekor Hen Li ke ruang berkumpul.

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia melakukan peregangan, merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, kemudian memutar pinggangnya ke dua arah yang berlawanan, seolah tidak ada hal yang mengusiknya. Ia menguap lebar dan mengibas-ibaskan tangannya ke wajah.

"Aku mau mandi dulu ya. Nanti aja kita bicarakan." Ia pun berlalu ke balik kamar mandi dan hingga keesokan harinya tidak ada pembahasan lanjutan. Ia tetap ke Klenteng Guan Di setelah sarapan tanpa ada rasa utang penjelasan kepada Mei Fang.

"Jose, apakah kamu betah bekerja di sini?" tanya Hen Li sembari membalikkan halaman bukunya. Di dekatnya sudah ada teh hangat buatan Jose, lengkap dengan teko teh jika ingin menambah.

"Iya, aku betah. Kakek sangat baik padaku."

"Seberapa baik beliau?"

"Kakek melindungi warga lokal. Suku Tetun."

Jawaban Jose berhasil membuat Hen Li menutup bukunya sejenak. Apa maksud dari melindungi? Sepertinya hal yang tampak serius?

"Tolong ceritakan lebih banyak kalau boleh," pintanya.

"Boleh kok."

Sudah sejak lama Kakek Lay memiliki kepedulian pada warga lokal. Jika Jose tidak salah ingat, sejak tahun 1991, di mana Peristiwa Santa Cruz terjadi. Kakek Lay menampung ratusan warga yang mengungsi di Klenteng Guan Di. Secara logika, hal tersebut mustahil karena halaman klenteng tidak seberapa luas dan rumah Kakek Lay pun begitu kecil. Namun, semua yang berlindung di tempat tersebut benar-benar terselamatkan dari penembakan dan kekerasan militer yang terjadi di luar klenteng.

Konon katanya, ini semua berkat ilmu yang dimiliki Kakek Lay dan Nenek Jiu. Mereka berdua adalah pahlawan bagi para warga lokal. Bukan hanya warga lokal, namun aset yang berharga bagi komunitas dan asosiasi Tionghoa di Timor Leste. Nenek Jiu disebut penjaga gerbang yang bertugas menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia arwah. Ada desas-desus yang mengatakan kalau beliau membawa warga ke dunia arwah untuk sementara agar terlindung dari peristiwa berdarah tersebut. Sedangkan kekuatan yang dimiliki Kakek Lay masih misterius.

Jose dan keluarganya menjadi salah satu yang diselamatkan. Bukan hanya dirinya, Apek Martin juga. Namun sayangnya, istri Apek Martin tidak tertolong saat itu karena terjebak di rumah sedangkan suaminya bekerja di kebun. Peristiwa Santa Cruz menorehkan luka yang sangat dalam pada Apek Martin hingga beliau membenci pemerintah negara tersebut. Mengapa harus ada kekerasan terhadap warga? Bukankah mereka adalah orang-orang yang seharusnya dilindungi oleh negara?

"Kamu bisa bertanya pada Apek Martin kalau mau tahu lebih lanjut. Aku cuma bisa bercerita sampai sini," tutur Jose.

Hen Li mengangguk semangat dan tidak sabar bertemu dengan pria gembul nan ramah tersebut. Ia ingin tahu lebih banyak. Dari cerita Jose, tidak ada pembahasan tentang dirinya dan Mei Fang waktu kecil, juga tentang ibunya. Mungkin Jose memang tidak tahu sejauh itu.

Lihat selengkapnya