Suara dua wanita tertawa bersama menggema dan sampai di telinganya yang baru saja sampai di Mei-Mei Florist. Suara yang cukup familier. Lisa. Gadis itu bertamu di rumah Mei Fang.
"Hai, Hen Li," sapa Lisa, tidak seperti sebelumnya. "Aku mau mengucapkan terima kasih padamu."
"Buat apa?" Ia duduk bersandar ke dinding di ruang berkumpul, sedangkan dua gadis itu asyik makan kue dan minum teh di meja. "Aku tidak melakukan apa pun lho." Ia mengangkat bahu.
"Tetap saja, kamu ikut membantu dan berusaha. Terima kasih ya." Lisa mendekat ke pria yang tampak kelelahan tersebut. "Aku juga mau minta maaf atas sikap judesku selama ini." Ia mengulurkan tangan. "Boleh kita berteman mulai sekarang?"
Hen Li melirik tangan Lisa dan wajah gadis itu bergantian. Serius nih? "Ya, aku juga minta maaf," jawabnya tidak antusias, namun cukup tulus.
"Oke! Sekarang waktunya makan kue dan minum teh! Sini ikutan, Hen Li." Lisa mengajaknya bergabung ke meja.
Hen Li menurut, namun ia lebih banyak diam dan menikmati sajian tersebut. Diam-diam ia melirik Mei Fang yang bercakap-cakap dengan sahabatnya penuh semangat. Mereka berbincang tentang kuliah Lisa, Danau Tasitolu, dan keindahan alam di Thailand.
Bunga Mei Hwa ya? Ia tahu kalau Mei Fang sepertinya suka dengan bunga itu. Kalau tidak salah, gadis itu berulang tahun di bulan Mei nanti. Apa Hen Li mesti mengusahakan impor bunga tersebut demi gadis itu? Hen Li menggeleng dan berpikir kalau alasan itu sedikit gila. Buat apa dia repot-repot untuknya? Dan ada hal yang jauh lebih penting dia lakukan saat ini.
"Nenek Jiu apakah ada di rumah?"
"Tidak ada. Nainai pergi ke danau lagi malam ini dan malam besok."