Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #25

Perjanjian Ikatan Darah

Proses Hen Li membuat Tiga Daun Selatan. lalu di akhir bab, ia bertemu dengan Kakek Lay dan meminta tolong utk membuka Gerbang Dunia Gelap.

Dengan terengah-engah, Hen Li kembali ke kamar tidurnya. Sebisa mungkin ia meninggalkan kamar Nenek Jiu seperti keadaan semula, sebelum ia memasukinya. Ia mengeluarkan bunga teratai segar dari kantong plastik hitam yang diambilnya dari dapur. Tidak salah lagi, inilah bahan utama yang ia butuhkan.

Semalam-malaman itu, Hen Li terjaga membuat Tiga Daun Selatan. Sesuai dengan panduan dari dua buku yang dicurinya dari lemari Kakek Lay, ia melakukannya dengan hati-hati. Jangan sampai ada satu langkah pun yang terlewatkan atau tereksekusi dengan tidak baik.

Bahan-bahannya sangat sederhana: bunga teratai segar, daun sirih, dan buah pinang muda. Tujuh lembar daun sirih ia susun mengelilingi bongkah bunga teratai segar yang dicurinya dengan penuh tantangan, sementara buah pinang muda yang telah diiris rapi diletakkan tepat di pusatnya. Sesuai petunjuk kuno dari buku Kakek Lay, setiap gerakannya tidak boleh luput dari perhitungan; mulai dari cara ia menumpuk helai demi helai daun hingga gumaman mantra pelan yang terus meluncur dari bibirnya untuk mengunci energi.

Begitu seluruh ramuan itu selesai dirangkai, ia memasukkannya ke dalam sebuah kantong kain kecil dan mengikat erat ujungnya dengan benang merah. Namun, keanehan langsung terjadi begitu ikatan itu disimpul rapat; kantong kain di dalam genggamannya mendadak menghangat dan memancarkan getaran halus. Detik berikutnya, benda mati itu mulai membesar dan mengecil secara ritmis—berdenyut-denyut konstan di telapak tangannya, seolah-olah ada sebuah jantung makhluk hidup yang baru saja lahir dan bersemayam di dalam kain tersebut.

Berhasil. Berhasil. BERHASIL. Dirinya berhasil membuat ramuan yang selama ini menghantuinya!

Entah sudah berapa lama ia berkutat dengan Tiga Daun Selatan, hingga ayam jantan berkokok dari luar rumah kini terdengar. Kantuk menyerang dengan cepat, namun tak mengapa, ia menyunggingkan senyum yang sangat lebar, belum pernah ia rasakan kegembiraan seperti sekarang ini. Ia mengangkat tinggi-tinggi kantong tersebut. Persis seperti kantong aneh yang diberikan Nenek Jiu pada Mei Fang untuk diberikan pada Kakek Lay—yang punya kekuatan untuk berkomunikasi dengan arwah orang mati.

Ia menyimpan kantong tersebut dengan hati-hati dalam laci lemari kamar, lalu merebahkan diri di kasur dan tenggelam dalam mimpi hingga matahari semakin tinggi. Ia sudah tidak sabar menggunakan Tiga Daun Selatan. Namun, apakah ia bisa sendirian membuka Gerbang Dunia Gelap?

Wajah Nenek Jiu, Kakek Lay, dan juga Mei Fang yang tampak kesal atau kecewa berbayang-bayang dalam mimpi siang bolongnya. Mereka bilang tidak menyangka kalau dirinya berani melewati batas seperti itu. Hen Li malah merasa bangga karena akhirnya bisa membuat sendiri ramuan tersebut tanpa bantuan siapa-siapa. Tapi ia akui, kalau persoalan membuka gerbang ... ia tidak bisa. Ia benar-benar butuh seseorang.

Nanti ia akan memberanikan diri membeberkan rencananya pada Kakek Lay. Terserah beliau mau marah atau bagaimana! Hen Li ingin bertemu dengan ibunya dan tinggal satu langkah lagi. Tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi. Tidak perlu ada peraturan 100 hari lagi. Tidak perlu ada rahasia-rahasiaan lagi.

"Kakek," panggil Hen Li sesampainya di klenteng. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Jose. Kemana dia?

"Xiao Di! Kemarin kamu ke mana?" Kakek Lay menghampiri pemuda itu dengan tampang sedikit panik. "Jose mencari-carimu."

"Eh?" Kemarin dia masih membaca buku bareng Jose kok. "Aku kemarin kan bersamanya, Kek."

"Tidak. Kamu tidak ada seharian. Apa Xiao Mei tidak mencarimu?"

Hen Li menggeleng. "Aku semalam tidur di rumah dan kemarin aku ke klenteng. Aku tidak kemana-mana, Kek." Ia mengangkat bahu, tidak paham masalahnya di mana.

Kakek Lay memperhatikan Hen Li dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia merasakan ada aura yang berbeda dari pemuda tersebut sejak terakhir kali mengobrol dengannya. Apa jangan-jangan ....

"Jujur padaku, Xiao Di. Kamu habis berbuat apa?" Beliau menatap pemuda itu tajam, namun tidak menusuk. Tetap ada kelembutan seorang kakek di sana.

Pemuda itu tertegun dengan sikap Kakek Lay. "Aku ... aku membuat Tiga Daun Selatan." Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kantong kecil.

Lihat selengkapnya