Kisah ini bermula di tahun 2006, ketika krisis Timor Leste sedang marak-maraknya. Para demonstran tidak memiliki hubungan yang baik dengan militer negara. Terjadi bentrok di mana-mana dan warga yang tidak ikut berdemo mau tidak mau mesti mengungsi. Sebagian besar mengungsi di daerah Ray Mean, tempat Apek Martin tinggal. Oleh karena itu, Apek Martin turut membantu dalam pengungsian warga, pendirian tenda, dan masalah teknis lainnya. Beliau menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab agar setiap pengungsi merasa aman dan nyaman.
Xue Lili, ibu Hen Li turut membantu di pengungsian. Beliau memasak makanan dan mengurus urusan perut para pengungsi. Ia tidak membiarkan ada yang kelaparan. Sedangkan Kakek Lay dan Nenek Jiu berada di klenteng untuk mengawasi situasi dan kondisi dari jarak dekat. Berkat pelindung yang dibuat oleh Nenek Jiu, mereka pun baik-baik saja. Mei Fang sendiri menjaga dokumen-dokumen pribadinya dan buku-buku persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi. Ia sama-sama di pengungsian, namun di area yang berbeda dari Xue Lili.
Saat itulah kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi. Xue Lili kecelakaan dan tidak bisa dibawa ke rumah sakit akibat kerusuhan yang masih terjadi. Berbahaya jika mereka mendekati kota. Karena itu, beliau dirawat seadanya di tenda bersama dengan korban-korban lainnya. Naasnya, nyawa beliau tidak dapat terselamatkan. Lukanya terlalu parah.
Kejadian tersebut sangat mengguncang tiga orang terdekat dari Xue Lili tersebut. Mereka belum rela kehilangan saudara tidak sedarahnya tersebut. Mereka pun berniat meminta bantuan Yan Luo Wang, sang penguasa akhirat agar bisa terkoneksi dengan arwah Xue Lili tanpa Tiga Daun Selatan.
"Kami minta maaf, Lili, karena tidak bisa menolongmu. Bahkan kami tidak ada di dekatmu waktu kejadian itu," kata Kakek Lay menyesal.
Wajah Xue Lili sedikit pucat namun kerutan halus di dekat matanya masih sama seperti ketika ia bernyawa. Wajah yang ramah dan murah senyum. Mei Fang banyak belajar darinya. Ia tersenyum tipis.
"Kalian tidak salah apa-apa. Aku malah berterima kasih karena telah menerima dan menjagaku hingga saat terakhir."
"Tapi ...." Kakek tua itu tidak sanggup menyambung kalimatnya. Ia menahan tangis dan menggigit bibirnya sampai berdarah.
"Aku senang masih bisa berbicara denganmu, Lili. Apa kamu sekarang jauh lebih bahagia?" tanya Nenek Jiu. Ia mendekati Xue Lili dan mengelus-elus kedua lengannya yang dingin.
Xue Lili mengangguk. "Aku juga senang dan juga bahagia. Tapi masih ada rasa sedih dalam jiwaku."
"Apa itu, Bibi?" Mei Fang yang sedari tadi tersedu sedan kini mengangkat suara. "Apa yang bisa kami bantu?"
"Ini tentang anakku, Hen Li. Wang Hen Li." Di balik warna hitam matanya yang bukan lagi manusia utuh, masih tersimpan rindu. Rindu yang sangat dalam. "Ia ... ia akan datang suatu hari nanti ke Dili. Ke kota ini."