Dirinya tidak sadar sedang diamati oleh seseorang. Ia asyik dengan rangkaian bunga di tangannya yang mungil. Bunga lily, anggrek, mawar, peony, hydrangea, dan baby's breath berhamburan dengan rapi di alas terpal transparan yang senada dengan atap rumah tanaman.
"Hai," sapa Hen Li.
"Hai, kamu sudah selesai memetik bunga?" tanya Mei Fang. Ia melirik sekilas kepada pemuda yang kini duduk di sebelahnya, lalu fokus kembali untuk mengikat bunga-bunga tersebut menjadi buket yang indah.
"Iya." Pemuda itu mengedarkan pandangan. Bukan hanya bunga, tapi juga ada kertas dan pita aneka warna, serta dua jenis gunting: satu untuk memotong bunga, satu lagi memotong kertas. "Ada yang bisa aku bantu?"
Mentari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan warna oranye dan kelabu di langit yang bintangnya malu-malu. Apek Martin dan Jose menyiapkan makan malam, sehingga Hen Li sudah lebih longgar. Meski ragu, ia tetap mendekati Mei Fang untuk melihatnya dari jarak yang lebih dekat.
Gadis itu menggeleng. "Aku sudah mau selesai. Besok kita lanjutkan," tolaknya.
Wajah itu ... wajah yang sering kali menyembunyikan isi hatinya. Hen Li tidak menyukainya. Gadis di hadapannya senang berpura-pura kuat dan memakai topeng poker face. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, gadis itu memiliki beban yang cukup berat.
Ia berusaha bersikap normal, walau dalam hatinya kesal. Ingin sekali Hen Li sampaikan pada gadis itu, kalau dia tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Ia bisa berbagi padanya jika ia mau. Tapi ... ya, gadis itu sepertinya memang tidak mau. Hen Li mengepalkan tangan.
Ingin sekali dia meluapkan isi kepalanya saat ini. Kenapa Mei Fang menunda kuliahnya demi dirinya? Demi janji kepada ibunya? Bukankah itu tidak adil untuknya?
Rambut hitam panjang milik sang gadis di hadapannya bergoyang-goyang kecil akibat angin malam yang mulai datang. Ia tidak mengikatnya. Biasanya gadis itu membuat kepangan-kepangan indah di kepalanya. Kini ia membiarkan rambutnya jatuh di punggungnya begitu saja.
"Mei Fang ...."