Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #29

Kerja Sama dengan Asosiasi Tionghoa Timor

Tidak ada penipuan yang lebih besar dalam hidupnya selain ini. Tidak ada buaian yang lebih memabukkan dalam hidupnya selain ini. Ia teringat dengan wajah Kakek Lay yang tersenyum simpul menyambut permintaan darinya. Permintaan seorang pemuda yang merindu ibu kandungnya. Pria tua itu sudah memanfaatkan dirinya. Pria tua itu sedari awal memang tidak berniat membantunya. Walaupun ... walaupun pria tua itu yang menghantarkan puisi buatan ibunya, tetap saja tidak dapat menebus rindu dan rasa kehilangannya.

Gumpalan rindu itu masih bersemayam dalam dadanya. Tidak serta-merta lenyap begitu saja. Namun ia sekarang sedikit memahami mengapa gadis yang tinggal bersamanya 2 bulan ini bertingkah dan berlaku seperti itu. Seperti ada beban berat yang dipikulnya. Seperti ada ribuan kata yang terlanjur sulit untuk diungkapkannya. Akhirnya, Hen Li hanya bisa iba.

Apakah ia perlu bertanya pada gadis itu? Dan mendorongnya lembut untuk bercerita? Ia menggeleng lemah dalam kesunyian di atas tempat tidurnya. Jika ia berlaku seperti itu, ia takut gadis itu akan memilih bungkam dan terus menampilkan wajah poker face yang memuakkan itu. Ia sebenarnya hanya ingin ....

"Sepertinya aku akan menghubungi Yi Ming dan Hu Hang," timpalnya di esok hari.

"Itu ... nama ajudan kamu 'kan?"

Hen Li mengangguk. "Tapi aku tidak tahu caranya. Ponselku kan hilang." Ia menggaruk pelipisnya. "Tiket pulangku juga."

Mei Fang kembali mencorat-coret bukunya di atas meja kasir. "Memangnya kamu ada perlu apa dengan mereka?"

"Ada satu hal. Dan ... ya, cukup penting ku rasa." Mendengar jawaban itu, Mei Fang mengangkat kepalanya sekilas, ingin tahu. "Tapi tanpa ajudanku, aku bisa cari cara lain sih."

"Hm, bagaimana?"

"Lewat Asosiasi Tionghoa Timor."

Mei Fang memiringkan kepalanya. Tidak biasanya Hen Li mau berurusan dengan orang banyak, apalagi dengan komunitas-komunitas seperti itu. Memangnya apa yang ingin dilakukan pemuda ini?

"Oh iya, Lisa bagaimana kabarnya?" tanya pemuda itu tiba-tiba, yang berhasil membuat sang gadis menyunggingkan senyum.

"Dia sehat kok."

"Syukurlah." Ia mengatakan rasa syukurnya sembari mengingat wajah Mei Fang yang meraung-raung karena kehilangan sahabatnya. Pertama kalinya ia melihat gadis tersebut serapuh itu. Biasanya ia selalu terlihat kuat dan penuh senyum.

"Orang-orang asosiasi sering datang ke klenteng kok. Nanti kamu ke sana saja."

"Apa aku perlu membawa-bawa namamu waktu meminta bantuan pada mereka?"

Lihat selengkapnya