Serangkai Bunga Mei Hwa

Eva Cristine Ronauli
Chapter #31

20 Titik di Danau Tasitolu

Titik pertama. Ada sebuah batu besar yang menyatu dengan danau, seperti pagar raksasa. Para pengunjung danau ini bisa duduk-duduk di atasnya sambil memainkan air dengan kaki mereka. Tinggi batu itu sekitar 1 meter dari permukaan air. Warnanya kehitaman dengan lumut tipis tumbuh di sekelilingnya.

Hen Li mengulurkan tangan kanannya ke air danau dari atas baru, menceruknya sebanyak mungkin, lalu mencicipinya dengan ujung lidah. Tawar ... sedikit asin. "Normal."

Ia bergulir pada titik kedua, jaraknya sekitar 250 langkah kaki dari titik pertama atau setara dengan 225 meter. Sepertinya antar titik memiliki jarak yang mirip-mirip. Hen Li harus menempuh total keliling danau sekitar 4,5 kilometer di bawah bulan sabit yang semakin meninggi. Mungkin butuh waktu 2 jam hingga penebusan ini selesai, jika ia tidak mengambil istirahat sedikit pun.

Sedari tadi hanya lengkungan danau dengan bentuk sama persis yang menyambutnya. Ia menengok ke belakang dan beberapa jajaran pohon menjulang memantaunya dari kegelapan. Ia hampir mengira bahwa dirinya tersesat dan masuk ke dunia lain, kalau saja ia terlambat menangkap sebuah cahaya kecil jauh nun di sana: tempat Nenek Jiu berada. Ia menyipitkan matanya dan hanya bisa menebak kalau wanita tua tersebut menyalakan lilin sebagai sinyal baginya, menjaga kewarasannya.

Hen Li mengangguk dan bergerak dengan lebih cepat ke titik selanjutnya. Tawar. Sedikit asin. Tawar. Lebih asin dari yang sudah-sudah, tapi belum seperti karat besi atau darah. Tawar. Tawar.

Yang awalnya hanya berjalan cepat menuju titik selanjutnya, semakin jauh ia dari Nenek Jiu, semakin ia mempercepat langkahnya—hampir-hampir berlari. Dan yang ditakutkannya terjadi. Cahaya lilin kecil itu lenyap ditelan kabut danau. Ia sendirian bersama dengan bintang-bintang yang bergerak seiring ia bergerak, dan diam seiring ia diam. Ia mulai was-was dan keringat mulai bercucuran membanjiri pakaiannya.

"Sudah setengah jalan." Ia melirik tasnya. "Aku makan dulu deh."

Ia membuka kotak bekalnya. Perkedel kentang. Ukurannya pas dengan bukaan mulut sehingga bisa langsung di-hap. "Satu, dua ... dua belas perkedel kentang." Ketika ia lahap, rasa-rasa yang lain mulai berhamburan di lidahnya. Alih-alih tekstur kentang tumbuh yang padat dan lembut seperti biasa, lidahnya disambut kontras dengan tekstur yang unik. ada kelembutan tahu yang berpadu dengan crunch tipis yang menyenangkan dari potongan kecil buncis di dalamnya.

Jika ia memusatkan perhatiannya lebih dalam, ada lapisan tipis telur yang membungkus perkedel tersebut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak menyangka kalau Mei Fang akan bereksperimen pada bekal buatannya. Senyumnya mengembang membayangkan sosok gadis itu tampak riang dan berjalan ke sana dan ke mari di area dapur yang tidak seberapa. Sesekali Hen Li pernah mendapati Mei Fang cekikikan sendiri sambil mengaduk adonan.

Ia melahap perkedel satu demi satu hingga tiada yang tersisa. Walau hanya makanan sederhana, namun pemuda itu percaya ada bumbu rahasia di dalamnya yang telah disiapkan sang gadis untuk memulihkan energinya. Ia tidak tahu apa nama bumbu tersebut, tapi ia yakin saja. Nanti pulang dari danau, ia akan menanyakannya dan minta diajari cara membuat perkedel kentang seenak itu.

Lihat selengkapnya