Seratus Impian Akari Sebelum Mati

Ariaria
Chapter #1

BAB 1. TAKDIR DI BAWAH GUYURAN HUJAN

Namaku Fukukawa Ren—murid kelas tiga SMA Hoshikawa yang mengandalkan sikap cuek sebagai perisai, penyendiri ulung, dan penghuni setia bangku paling belakang yang tersisih dari riuk-pikuk kelas. Penampilanku pas-pasan, sementara kemampuanku bersosialisasi berada di titik nadir parah.

Gadis terakhir yang pernah mencoba berbincang denganku langsung melenggang pergi tanpa penyesalan begitu pemuda impiannya menyatakan cinta lebih dulu—meninggalkanku seperti wadah plastik sekali pakai yang dicampakkan ke tempat sampah.

Masa depanku suram. Tak ada satu pun orang yang sudi membuang waktu untuk sekadar menyapaku. Dan di dalam ruang kelas 3-B ini, berdiri sebuah sosok yang merupakan kebalikan mutlak dari keberadaanku.

“Selamat pagi, Semuanya~!”

Suara renyah meluncur bersamaan dengan terbukanya pintu.

Seorang gadis jelita.

Rambutnya pirang keemasan saat diterpa cahaya matahari yang menyusup dari jendela. Dengan bola mata biru bagai safir, kulit yang bening cerah dan bersih, ia tampak seperti boneka porselen menggemaskan yang sudah dewasa.

Gadis itu melempar senyuman manis yang memancarkan pendar hangat ke sekeliling ruangan. Menyapa riang. “Apakah hari ini kalian masih bersemangat~?!”

“UWOOO!”

Sorak-sorai langsung meledak membahana. Dalam sekejap mata, kerumunan siswa yang tadinya tersebar di berbagai sudut kelas merapat, mereka mengerumuni sosok berkilauan yang berada di depan pintu tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur tanpa jeda—mulai dari tren busana terkini, rilis film drama terbaru, hingga wacana liburan akhir pekan bersama.

Begitu meriah.

Begitu menyenangkan.

Aku mengembuskan napas samar dari sudut terbelakang. Tatapanku mendingin menyaksikan keramaian yang bising itu. Menyipitkan mata.

“Dasar pengganggu,” umpatku lirih di balik napas.

Memasang Earphone putih sebagai alat pengusir keramaian darurat.

Gadis itu bernama Akari Chitose.

Jika diriku diibaratkan sebagai lubang hitam yang menyerap kehangatan dan menyisakan kehampaan, maka Akari adalah cahaya mentari yang memastikan segala di dekatnya tetap bersinar terang dan hangat.

Ia adalah primadona nomor satu di SMA Hoshikawa.

Paras cantiknya yang hampir tidak masuk akal kerap diburu oleh agensi model papan atas di Jepang, sementara deretan nilai sempurnanya membuat para guru bertaruh nama demi mendaftarkannya ke berbagai kompetisi akademik.

Disiplin, ramah, dan sanggup merangkul siapa saja—ia adalah manifestasi nyata dari gadis impian siapapun di dunia.

Bagi mereka yang mengerumuninya, menatap wajah Akari selama beberapa detik saja sudah cukup untuk membilas lelah akibat rutinitas sekolah. Akari adalah dewa kebahagiaan berwujud manusia yang selalu berhasil mengukir senyuman di wajah orang lain yang sedang bersedih.

Atas dasar itulah semua orang memujanya—setidaknya, sampai detik ini.

Belum sempat Akari merespons seluruh rentetan pertanyaan para sahabatnya, bel masuk sekolah berdentang panjang. Dentangan itu memutus paksa obrolan hangat para siswa termasuk Akari sendiri, membuat para murid harus kembali ke bangkunya masing-masing. Mempersiapkan diri untuk menghadapi jam pelajaran pertama.

Dengan senyum manis yang sedikit tertahan, Akari Chitose menyahut, “Ah, ternyata kelas sudah mau dimulai, ya?” Ia lekas-lekas meletakkan tas ransel putih menggemaskan. Membongkar beberapa barang yang dibawanya.

Gadis di sebelah yang masih berdiri, Shion, mengeluh kecewa. “Benar sekali, Chitose-chan!” Ia berseru. “Harusnya sekolah memundurkan jam pelajaran kita satu jam lebih lambat supaya kita bisa—”

“Shion-chan, ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada kelas?”

Belum sampai satu menit setelah bel kelas berbunyi, sebuah bisikan dingin terdengar tepat di belakang telinga Shion. Begitu sinis. Begitu menusuk hingga jantung gadis tersebut hampir saja berhenti.

Warna darahnya memudar dari wajah. Ia mematung kaku, menyadari betul siapa pemilik suara tajam tersebut tanpa berani menoleh.

Murid-murid lain yang melihatnya langsung berhamburan menyelamatkan diri ke tempat duduk masing-masing—termasuk Akari yang secara ajaib langsung beralih mode menjadi 'siswi teladan' dalam hitungan detik.

Bisik-bisik ketakutan menjalar cepat di barisan depan. “I… itu Kayano-sensei!”

“Bu—Bukannya beliau seharusnya masih menunggu di ruang guru semenit yang lalu?”

“Gawat, Shion-chan bisa tamat kalau begini!”

“Bertahanlah, Shion-chan!”              

Lihat selengkapnya