Biasanya, saat bel istirahat berdentang, sebuah tembok tak kasat mata akan berdiri kokoh memisahkan duniaku yang suram dengan dunia Akari Chitose yang cerah bagaikan mentari.
Di sudut paling belakang kelas, aku memilih tenggelam dalam duniaku sendiri—menyumbat telinga dengan lagu-lagu favorit dari Yoasobi, Kanzaki Elsa, atau LiSA. Sementara di barisan depan, Akari selalu dikelilingi puluhan sahabatnya: menguntitnya berjama’ah ke kantin, bersandar di papan tulis yang baru dihapus, atau sekadar nongkrong bersama cewek-cewek gaul yang dengan santainya mengangkat satu kaki ke atas kursi melalui sikap yang terhitung tidak sopan.
Namun, kali ini ada yang aneh.
Akari mendadak memberiku kode mata agar mengikutinya secara diam-diam. Ia memohon izin pada teman-temannya untuk pergi ke toilet. Bedanya, jemarinya secara tangkas menyambar sebuah kotak bekal bertingkat yang terbungkus kain merah bermotif Hello Kitty. Menyembunyikannya di balik punggung.
Aku membatin malas ketika melihat adegan yang sangat amatiran tersebut.
Siapa pula yang pergi ke toilet membawa kotak bekal, hah? Kau pikir dirimu adalah cewek introvert yang mau makan di dalam bilik mandi?
Meski begitu, aku tetap mengalah. Aku bangkit pelan, mengekor langkah cepatnya menyusuri koridor yang kebetulan sedang lengang. Kami pun sampai di tempat tujuan: atap gedung sekolah.
Atap ini sebenarnya kawasan terlarang. Alasan sekolah menutup aksesnya cukup klise—khawatir ada murid frustrasi yang nekat melompati pagar berkarat demi mengakhiri hidup, persis seperti klisenya adegan di anime drama atau manga.
Pintunya tentu terkunci rapat. Namun, dengan seringai jahil yang agak mengerikan, Akari memamerkan seikat kunci yang gemerincing di tangannya—hasil rampasan dari kantor OSIS.
“Kau pasti bingung bagaimana aku bisa dapat kunci berharga ini, kan~?” godanya.
“Aku belum bertanya,” jawabku datar.
“Jawabannya…” Akari menahan napas sejenak, “…karena aku adalah anggota komite kedisiplinan yang bertugas memastikan tidak ada murid nakal yang membolos di atap!”
Hening.
“Oh,” tanggapku pendek sambil melangkah ke atas lantai atap yang telah terbuka, terlihat berdebu di bawah tiupan angin segar. “Dan siswi paling teladan itu sekarang menyalahgunakan wewenangnya untuk hal yang tidak jelas.”
“Jahatnya!” Akari cemberut dengan raut yang teramat menggemaskan. “Padahal ini semua kulakukan demi dirimu, tahu! Harusnya kau berterima kasih!”
“Iya, iya. Terima kasih banyak, Putri Kedisiplinan yang terhormat.”
Ia mengunci kembali pintu atap dua kali, lalu berjalan mendahuluiku menuju balik tangki air kuning raksasa yang menaungi kami dari terik matahari. Kami duduk berdampingan dalam jarak yang sangat dekat. Menatap birunya langit di distrik Setagaya.
“Tada~!” Senyum lebar Akari merekah. “Sebagai ucapan terima kasih atas kejadian kemarin, aku membawakanmu bekal makan siang, Fukukawa-kun~!”
Ia membuka kotak bekal bertingkat berwarna cokelat yang memancarkan uap hangat dan aroma gurih yang menusuk hidung. Sepaket sukiyaki premium dengan irisan daging pilihan, bumbu manis-gurih yang menggugah selera, serta sayuran segar tertata rapi di dalamnya.
Aku melempar pandangan ke langit, menyahut malas, “Aku sudah tahu.”
“Bukan 'aku sudah tahu'!” pekiknya tak terima, kedua pipinya menggembung kemerahan. “Harusnya kau bilang, 'Wah, Chitose-chan! Terima kasih banyak!' atau 'Hiks… Chitose-chan… aku bersyukur bisa melihat senyummu yang berkilauan hari ini!'—begitu, kan?!”
Aku mengedipkan mata, menatapnya heran. “Habis maraton drama apa semalam?”
Bukannya malu, Akari malah tertawa renyah. “Hehehe~ Instingmu tajam juga…” Ia bersedekap sambil terkekeh pelan. “Aku baru selesai nonton film Descent of the Sun sampai subuh. Hebat, bukan? Sekarang, pujilah aku!”
“Hebat,” balasku, menggantung. “Kau bisa membeberkan aibmu sendiri seringan angin berlalu—wajib diapresiasi.”