Seratus Impian Akari Sebelum Mati

Ariaria
Chapter #3

BAB 3. REDUPNYA CAHAYA MATAHARI HOSHIKAWA

“Ini aneh… Sungguh sangat aneh!”

Suara itu memecah ketenangan pagi. Kudoku Kaitou—si kapten tim sepak bola berparas tampan yang punya basis penggemar di setiap sudut sekolah—mendadak berdiri kaku di depan mejaku.

Seperti biasa, aku menulikan diri dari bisingnya ruang kelas dengan memutar lagu Gurenge dari anime Kimetsu No Yaiba lewat earphone putih yang terpasang di kedua telinga. Buku-buku pelajaran sudah tertata rapi di atas meja kayu, lengkap dengan kotak pensil yang bersiap di jangkauan tangan. Rutinitas anak sekolah pada umumnya.

Namun, pagi ini ada anomali.

Bukan karena Akari Chitose—sang primadona sekolah—tiba-tiba melambaikan tangan sembari menyapa, “Selamat pagi, Fukukawa-kun~!” dengan nada manis saat ia melangkah masuk. Bukan pula karena nilai tugas matematikaku yang kukerjakan kemarin mendadak melonjak drastis melampaui angka delapan puluh yang sepertinya bisa didaftarkan pada keajaiban dunia kesebelas.

Melainkan karena murid laki-laki nomor satu di SMA Hoshikawa—saingan berat Akari dalam hal popularitas, nilai akademik, sekaligus buronan cinta dari siswi kelas satu hingga tiga—kini berdiri tepat di hadapanku, siswa paling suram se-antero sekolah.

Telunjuknya menuding mukaku persis seperti sedang menunjuk kriminal yang tertangkap basah. Sorot matanya berkilat-kilat tajam.

“Bagaimana bisa orang culun sepertimu…” Ia bergumam kesal, rahangnya mengatup rapat. “…bisa dekat dengan Chitose-san, hah?!”

Pekikan lantang itu seketika menarik perhatian seisi kelas. Tatapan para murid tertuju ke sudut belakang—termasuk Akari Chitose yang tadinya sedang asyik mengobrol di dekat papan tulis. Ketegangan segera menyergap ruangan milik 3-B yang tiba-tiba senyap.

Dengan malas, kulepas earphone dari telinga. Aku menatap datar pria populer yang menurut rumor sudah menembak Akari setiap bulan sekali dan selalu berakhir ditolak. Aku menguap lebar.

“Bisa diulangi?” tanyaku, cuek.

GRAB!

Tanpa aba-aba, Kaitou mencengkeram erat kerah kemeja putihku. Ia menarikku berdiri hingga posisiku agak terangkat berjajaran dengannya. Alisnya menukik tajam bersamaan dengan wajah tampan menyiratkan amarah yang menyala-nyala.

Melihat situasi mulai tak terkendali, beberapa teman sekelas yang paham watak Kaitou langsung sigap bertindak. Mereka memegangi bahu si kapten sepak bola dan memandahnya menjauh sebelum kepalan tangannya melayang.

“Jangan halangi aku! Aku cuma mau bicara sama dia!” seru Kaitou sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan teman-temannya.

Setelah situasi agak tenang, ia kembali berdiri tegak di hadapanku, menyemburkan pendar intimidasi yang amat pekat.

“Namamu… Fukukawa, kan?” tanyanya menekan.

Aku cuma mengangguk pelan, lalu memencet tombol pause pada pemutar musik di ponselku.

“Kau pikir…” Kaitou menatapku tajam. “…kau bisa menaklukkan hati Chitose-san dan mengalahkanku, hah?! Jangan bermimpi, bocah suram!”

“Aku memang tidak berpikir begitu,” potongku cepat saat tawa antagonisnya hampir meledak. Mengedipkan mata sekali.

“Dan aku juga tidak sedang bermimpi.”

“Bohong!” semprot Kaitou galak. Air liurnya menyembur hingga mendarat di pipiku. Kedua tangannya mengepal.

Lihat selengkapnya