Seratus Impian Akari Sebelum Mati

Ariaria
Chapter #4

BAB 4. PERTENGKARAN ANTARA KEGELAPAN DAN CAHAYA DI HOSHIKAWA

“Kau membenciku?!”

“Kau tidak suka padaku?!”

“Kau jijik dengan tingkahku?!”

“Katakan sesuatu, Fukukawa-kun!”

Teriakan Akari—yang sungguh tak selaras dengan paras eloknya—menggelegar bagai guntur di senja yang hangat. Napasnya menderu terengah-engah, dengan dada kempas-kempis menahan emosi yang meluap.

Di tengah remangnya gudang, aku terpaku diam, menatap lamat-lamat gadis di hadapanku. Baru kali ini aku menyaksikan wajah cantiknya basah oleh air mata—menyisipkan sedikit benih rasa bersalah di dadaku.

Sadar tak lagi punya celah untuk lari, aku memilih menjawab sejujurnya. Membuka suara perlahan.

“Itu benar, Akari,” ucapku datar. “Aku membencimu—bahkan sejak dulu.”

Air mata Akari Chitose jatuh makin deras. Isakannya, berpadu dengan wajah yang memerah padam, memenuhi sudut-sudut gudang yang dingin dan kelam.

“Ta... Tapi...” suaranya tertahan, seolah gentar mendengar rentetan kalimatku berikutnya. “... Kenapa, Fukukawa-kun?! Kenapa kau benci padaku?! Bukankah aku selalu baik padamu... bahkan baik pada semua orang?! Apa yang salah dari diriku?!”

“Justru itu masalahnya, Akari-chan,” menyela, aku melangkah mendekati dirinya yang menghalangi pintu keluar. “Karena kau terlalu baik dan sempurna sebagai seorang gadis... aku jadi benci padamu.”

Gadis berambut pirang itu tertegun sewaktu aku nekat menarik lengannya agar ia menyingkir. Pupil matanya mengecil, tak percaya.

“Pria murahan sepertiku didatangi gadis nomor satu di sekolah, dijanjikan bekal makan siang setiap jam istirahat, disuapi penuh perhatian...” Aku menatap sinis sang primadona sekolah. “...Menurutmu, Akari... Memangnya siapa yang akan tahan dengan lelucon seperti itu, hah?! Jangan buat aku semakin berharap lebih padamu, bodoh!”

Amarah kasar yang selama ini terendap di dasar hatiku meledak tanpa kendali. Mendengarnya, Akari Chitose membeku seketika. Dalam sekejap, seluruh tenaganya menguap; tubuhnya ambruk, terduduk lemas di atas lantai gudang peralatan olahraga.

Wajahnya tampak layu bagai mawar yang tak tersiram berhari-hari. Air matanya menetes beruntun dari dagu yang tirus, sementara seragamnya kotor tersapu debu lantai.

Tanpa memedulikannya lebih jauh, aku bergegas membuka pintu gudang.

Koridor lantai satu sekolah disiram pendar oranye matahari barat. Terpaan angin segar menyeruak masuk lewat jendela kaca yang setengah terbuka. Sembari mengendalikan dada yang sesak, aku berusaha meneguhkan hati atas keputusan yang baru saja kuambil.

Tenanglah, Ren, bisikku pada diri sendiri. Semua ini demi kebaikanmu, kebaikan Akari—bahkan kebaikan semua orang. Langkahmu sudah benar.

Kegelapan abadi bernama Fukukawa Ren... memang tak seharusnya mencicipi pendar cahaya Akari Chitose, bukan?

“Padahal aku hanya ingin mewujudkan impianku...”

Suara jernih nan merdu milik Akari meluncur dari bibirnya yang tergigit erat. Punggung kedua tangannya terangkat, mencoba membendung tumpahan air mata.

Mendengar bisikan indah itu, langkahku terhenti secara refleks. Tubuhku bergerak di luar kendali pikiran.

Mentari Hoshikawa yang telah redup di belakangku melanjutkan, “Padahal aku hanya ingin menggapai seluruh keinginanku sebelum berpisah dengan semua orang...”

“... Tapi kenapa?”

“... Kenapa kau begitu jahat padaku, Fukukawa-kun?”

Tangisannya kembali pecah, mengiris keheningan sore. Makin kencang dan pilu.

Suasana koridor yang bersimbah warna jingga menciptakan atmosfer perat yang menusuk dada. Melihatnya tersedu-sedu di ruangan gelap berdebu seperti itu, naluri lelakiku mendesak keras agar aku berbalik dan merengkuhnya. Naluri itu ingin aku meminta maaf dengan lembut, berbisik di dekat telinganya yang memerah: 'Aku bukannya jahat padamu, Akari. Hanya saja, aku akan membenci diriku sendiri jika sampai terlalu terikat denganmu.'

Lihat selengkapnya