Serdadu Mata Biru dan Nyainya merupakan novel fiksi sejarah yang berlatar Hindia Belanda pada periode 1904–1908, di tengah ekspansi kekuasaan kolonial Belanda di Bali, terutama Ekspedisi Militer Bali VI pada 1906 dan Bali VII pada 1908.
Peristiwa sejarah menjadi landasan bagi cerita ini, sementara tokoh, konflik personal, dan sebagian dinamika kehidupan di lingkungan tangsi KNIL dikembangkan melalui imajinasi. Rekonstruksi lokasi, tata ruang barak, serta sejumlah detail kehidupan sehari-hari juga disesuaikan demi kebutuhan narasi.
Novel ini berupaya menghadirkan kehidupan orang-orang biasa yang kerap luput dari narasi besar sejarah, terutama mereka yang hidup di antara batas-batas identitas, keluarga, dan kedudukan sosial pada masa kolonial.
Dengan demikian, Serdadu Mata Biru dan Nyainya bukanlah rekonstruksi dokumenter, melainkan sebuah cerita fiksi yang berangkat dari latar dan peristiwa sejarah.