“Cepatlah, Wil! Kita sudah ketinggalan lama gara-gara kau!”
Sep mencengkeram lengan Willem, menyeretnya melewati jalur sempit di belakang istal kuda. Willem merapikan kancing bajunya sambil setengah berlari menembus semak-semak. Kegelapan menyelimuti dinding kayu kandang, hanya menyisakan suara derit kayu tua dan bau amonia kuda yang menyengat.
“Memangnya apa yang sedang mereka taruhkan sekarang?”
“Bukan apa, tapi siapa.”
Langkah Willem langsung melambat sebelum berubah menjadi seringai lebar. “Mereka memperebutkan Nyai?”
“Nyai paling diincar di tangsi ini. Nyai Suparmi. Tuan lamanya baru saja mati kena malaria kemarin.” Sep menyunggingkan senyum. “Godverdomme![1] Aku bahkan ingin melepas keperjakaanku dengannya,” desisnya, matanya berbinar penuh gairah remaja barak.
“Oh, sialan, aku juga mau lihat!” sahut Willem bersemangat, lalu berlari kecil menyalip Sep.
“Hei, tunggu aku, Wil!”
Di balik rimbunnya kanopi jerami dan dinding lapuk istal, sekelompok serdadu muda dan anak-anak magang telah melingkar rapat. Suasana di sudut itu gulita dan mencekam, hanya diterangi oleh sebatang pelita minyak berjelaga yang sumbunya bergetar ditiup angin malam. Sinarnya yang kekuningan dan redup hanya mampu menjangkau wajah-wajah tegang yang menunduk, menyoroti keringat di dahi dan mata yang melotot penuh nafsu.
Willem dan Sep menyusup, menerobos kerumunan bau keringat dan kain wol basah. Di sana, di antara barisan penonton, Paijo sudah membungkuk mematung. Wajah pribumi itu tampak tegang, matanya tak lepas dari dua buah mata dadu yang berputar di atas tempurung kelapa.
Willem ikut membungkuk, berbisik di samping telinga Paijo, “Siapa yang unggul?”
Tanpa menoleh, Paijo menjawab dengan suara tertahan, “Sumanto mulai mau menang terus… tapi giliran saiki Sugiwo sing oleh angka apik.”
Sep ikut merangsek maju, mendengus kecil. “Lihat saja, keberuntungan Sumanto pasti habis malam ini.”
Tiba-tiba, dari balik dinding papan kandang yang berderit, terdengar suara tarikan napas berat disusul ringkikan panjang.
Ngiiikkkhhh…
Kuda-kuda itu gelisah. Keributan kecil di balik dinding ini pasti telah membangunkan salah satu penghuni istal. Tapi tak seorang pun di lingkaran itu yang peduli, taruhan atas nasib seorang perempuan di ranjang barak jauh lebih menarik daripada amukan kuda di tengah malam.
Willem melirik meja. Di samping pelita, tumpukan uang logam receh berhamburan bersama beberapa kerat roti yang mulai mengeras. Willem menatapnya lekat-lekat, itu ontbijtkoek. Setiap sarapan ia selalu memperhatikan roti itu disajikan di meja para serdadu kulit putih, dengan olesan mentega. Entah bagaimana rasanya. Menu pribumi seringnya singkong dan ikan asin.
Sumanto, si serdadu tua bermata juling, tampak memegang lapak dengan senyum menyeringai. Ia mengocok tempurung kelapa itu dengan gerakan kasar, membantingnya ke atas papan kayu. Dua buah mata dadu bergulir liar, berhenti pada angka tiga dan empat. Sumanto menyeringai lebar, menepuk dadanya sendiri penuh kemenangan.
Sugiwo menelan ludah kasar. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena tegang, ia mengambil tempurung itu, memutarnya tiga kali, lalu membantingnya telak di hadapan semua mata.
Enam dan enam. Angka sempurna.
“Asu!” seru Sumanto, matanya melotot tak percaya.
Seketika, lingkaran serdadu muda itu pecah dalam sorak-sorai liar bercampur umpatan kekecewaan. Nyai Suparmi, gundik paling diperebutkan di seantero tangsi itu, kini jatuh ke tangan Sugiwo.
Belum sempat Sugiwo menikmati kemenangannya, sebuah suara berat memecah hiruk-pikuk sudut istal. Suara sepatu bot berderap tegas di atas tanah berpasir, disusul bentakan dingin yang membuat darah seketika membeku.
“Staat stil! Wat is hier aan de hand?!”
Itu suara Kapitein Hendrik van Deventer. Kapten itu selalu saja suka berpatroli malam-malam begini, padahal ia tinggal memerintahkan para sersan untuk mengurusnya.
“Kapten teko!” teriak seseorang dari barisan belakang.
Kepanikan meledak dalam hitungan detik. Lingkaran perjudian bubar jalan. Para serdadu dan anak kolong lari tunggang langgang ke segala penjuru tanpa arah. Sumanto, yang tergesa-gesa bangkit, menyepak meja kayu hingga terbalik.
Melihat kekacauan itu, mata Willem langsung menangkap kesempatan emas. Di tengah debu dan recehan sen yang berserakan, sepotong ontbijtkoek yang sejak tadi diincarnya terguling di dekat kakinya. Tanpa pikir panjang, tangan Willem menyambar roti beraroma rempah itu, menyembunyikannya ke balik bajunya.
“Lari, Wil!” teriak Sep dari balik bayangan tumpukan jerami.
Paijo sudah lebih dulu melompat menembus semak belukar. Willem dan Sep berlari mengikutinya. Sementara para serdadu sudah memisahkan diri, berlari kencang ke gelapnya labirin tangsi, meninggalkan suara bentakan sang kapten yang semakin dekat menggelegar di balik dinding istal.
***
Willem, Sep, dan Paijo menyusuri gang pelataran benteng dengan hanya diterangi cahaya purnama. Tangsi KNIL itu benar-benar sepi, hanya menyisakan desir angin malam yang dingin. Sebagian besar serdadu dari kanopi jerami tadi mungkin sudah merayap kembali ke dipan barak mereka masing-masing, atau bersembunyi di sudut-sudut rahasia agar tidak kena straf dari sersan yang ronda. Willem sangat hapal hal itu.
Suara gesekan langkah kaki bertelanjang milik Paijo dan sepatu bot kusam Sep beradu pelan dengan lantai batu. Di tengah kegelapan itu, Sep memecah keheningan dengan suara setengah berbisik.