Sersan dengan bekas luka di dahi itu mendekatkan lampu minyak yang dibawanya ke wajah Willem. Sementara cahaya lampu lain terus mendekat dari arah belakang.
“Oh, lihatlah mata biru ini, Kromo. Anak dari nyai-mu ini punya darah Belanda yang kuat. Jika lahir di rumah besar dia pasti sudah dipuja-puja.”
“Wie is daar?” seru suara dari cahaya api di belakang.
Sersan Kromoredjo menoleh. “Itu Kapitein Hendrik.”
Sersan dengan bekas luka di dahi mendesah jengah. “Urus anak dari gundikmu ini, Kromo, atau dia akan dicambuk nanti. Biar kuurus kapten gendut itu.”
Lalu dia melangkah maju sambil mengangkat tangannya, hormat. “Kapitein!”
Sersan Kromoredjo menarik lengan Willem ke balik dinding persimpangan. Dia mendorong pelan anak itu ke dinding.
“Apa yang kau lakukan malam-malam, Wil? Apa kau bergabung dengan perjudian di belakang kandang kuda lagi?” ucap Sersan Kromoredjo tegas.
Willem menggeleng gugup. “Aku baru saja menemui Karso, Sersan.”
Sersan Kromoredjo mendengus. “Kembalilah ke bangsalmu. Ambil jalan memutar.”
Willem mengangguk, lalu ia mulai melangkah menjauh.
“Wil!” panggil Sersan pelan, menghentikan langkah Willem. “Ingat, kau tidak melihat dan mendengar apa-apa… kau tidak tahu apa-apa.”
“Aku mengerti, Sersan.”
Lantas Sersan Kromoredjo pun berbalik dan keluar menemui Kapten Hendrik.
Willem buru-buru ke belakang fasilitas kesehatan, memutari bangunan itu.
Bau karbol menusuk hidung. Dari balik jendela kayu yang tertutup terdengar batuk serdadu yang demam. Willem berjalan pelan sambil menunduk, menjauhi cahaya bulan, dan membiarkan pikirannya berjalan lebih jauh daripada kakinya.
“Sebenarnya siapa yang melanggar siapa?”
Kalimat Sersan Kromoredjo tadi masih mengganjal. Bali. Kata itu cukup untuk membuatnya teringat pada tugu di pelataran depan tangsi, jauh di seberang lapangan, di dekat gerbang utama. Tugu[1] itu berdiri tepat di antara dua pohon beringin, beralas marmer, dengan badan perunggu yang menjulang dan ujung-ujung runcing seperti jarum. Setiap anak kolong sudah lewat di bawah bayangannya sejak bisa berjalan. Meski pelataran[2] tangsi tak boleh dilewati Anak Kolong, tapi mereka sering menyusup ke sana. Karena Gerbang Utama hanya untuk para prajurit resmi, Anak Kolong dan para Nyai biasanya keluar lewat Gerbang Belakang atau Gerbang Logistik.
Sep pernah mengeja prasastinya huruf demi huruf di monumen itu, memberi tahu Willem dengan sombongnya begitu ia lulus dari E.L.S.. Tulisan yang katanya dilapisi emas asli itu menghormati para perwira dan prajurit yang gugur, terluka, atau mati dalam ekspedisi ke Bali pada tahun 1868. Hanya itu yang ia mengerti. Nama-nama tempat di sisi kanannya terasa asing di telinga.
Para perwira menyebut tugu itu kemenangan. Para sersan tua menyebutnya dengan suara lebih pelan, sebagai ekspedisi yang begitu berat sampai sang jenderal harus diganti di tengah jalan.
Di luar gerbang yang sama, Sungai Kalimas mengalir menuju pelabuhan Oedjoeng, tempat pangkalan angkatan laut berdiri. Jaraknya tidak jauh. Perahu-perahu yang bertolak dari dermaga dekat gerbang hanya perlu mengikuti arus untuk sampai di muara. Kalau perang itu benar-benar datang lagi, serdadu-serdadu akan pergi lewat jalan yang sama, dan seorang kolonel baru sedang dalam perjalanan untuk memimpin mereka. Willem bertanya-tanya, apakah suatu hari akan ada tugu lain di pelataran itu.
Tangsi Djotangan[3] sendiri seperti terbelah oleh lapangan apel di tengahnya. Di satu sisi berderet barak serdadu Belanda, yang lebih lega dan tak pernah sesak. Di seberangnya, barak pribumi dengan bangsal keluarga dan bujangan yang berdesakan. Setiap pagi sepatu bot kedua pihak menginjak tanah yang sama—meski tahun-tahun sebelumnya hanya serdadu kulit putih yang memakai sepatu—tapi jarang ada yang menyeberanginya tanpa urusan.