Byuuurrr…
Willem menyiramkan air yang ia timba dari sumur samping bangsal ke kakinya.
Pagi datang tanpa peringatan. Angin sepoi-sepoi menyapa penghuni tangsi. Dan burung bondol berterbangan dari pohon-pohon yang ada di kompleks tangsi menuju sawah-sawah terdekat untuk mencari makan.
Willem terlalu mengantuk karena semua kejadian semalam. Digosoknya serabut kelapa ke kakinya dengan keras—yang penting bersih. Setelah ia membasuh semua kaki dan tangannya, ia pun langsung berpakaian. Kemeja kusam itu dulunya berwarna putih, sekarang sudah kuning, bahkan kecoklatan. Tanpa alas kaki ia berlari menuju Gedung Pelatihan.
Di sana semua Trompetist sudah berbaris. Sersan Kromoredjo dan beberapa rekannya ada di sana. Dan yang paling membuat Willem syok adalah kehadiran Kapitein Hendrik van Deventer yang tak biasa. Pria paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit itu menatap tajam Willem.
“Blauwe ogen![1] Siapa namamu, Nak?” tanya Kapten Hendrik dengan aksen Belanda yang kental.
“Ja, Kapitein![2]” seru Willem sambil memberi hormat. “Willem, Kapitein.”
“Siapa ayahmu?”
Willem terdiam. Matanya melirik Sersan Kromoredjo sejenak. Semua orang menatapnya, menunggu jawaban.
“Saya putra dari Nyai Sarkasi, Kapitein,” nadanya turun satu oktaf.
“Nyai?” ulang Kapten Hendrik diakhiri helaan napas meremehkan. “Kau adalah Niet-Erkend. Kenapa kau terlambat?”
Willem menunduk. “Mandi, Kapitein.”
“Seorang prajurit tidak mementingkan mandi, Nak. Kau ingin jadi KNIL atau tidak?”
“Ja, Kapitein!” Willem kembali menaikkan nadanya.
“Tidak ada tolerir dalam militer. Kau harus dihukum. Pergilah ke Hua Yue Lou di Wonokromo, temui Toh Liem Hwat, dan belikan teh paling enak darinya. Teh ini untuk tamu penting, jika kau gagal… seluruh tangsi ini akan dihukum.”
Willem dengan cepat memberi hormat. “Ja, Kapitein!”
“Kembali ke tempat.”
Willem pun langsung bergerak masuk ke barisan anak magang. Kedua tangannya rapat di samping badan. Sersan Kromoredjo hanya menatapnya. Semua Kwekeling menghadap Kapten Hendrik yang mulai berjalan mondar-mandir di depan sambil menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
“Dengarkan aku para Kwekeling! Tamboer dan Trompetist!”
“Ja, Kapitein!” semua orang kompak menjawab.
“Kita akan kedatangan personil baru. Orang Penting! Seorang Kolonel yang datang langsung dari Belanda!” Kapten Hendrik terus bicara, sesekali menyentuh kumisnya. Kalian akan menyambutnya. Aku tidak ingin ada nada sumbang. Kalian mengerti?!”
“Ja, Kapitein!”
“Bagus,” ucap Kapten Hendrik. Lalu ia melirik Willem. “Jangan lupa tehnya, Blauwe ogen.”
“Ja, Kapitein!” Willem menjawab tegas.
Kapten Hendrik pun melangkah keluar. Ruangan kembali hening.
Sersan Kromoredjo lalu menyahut. “Tunggu apa lagi?! Cepat beri tanda untuk apel pagi!”
“Ja, Sergeant!”
Semua orang pun bubar. Willem mengambil terompetnya yang ada di rak belakang, kemudian mengikuti rekan-rekannya keluar.
Di serambi yang memanjang itu, para trompetist berlari ke dua ujung. Willem dengan kaki panjangnya mudah mengimbangi langkah rekan-rekannya ke sisi kanan. Semua orang berbaris, mengarahkan terompetnya sedikit ke selatan—ke Barak Selatan. Willem mengangkat terompet ke bibirnya. Setelah aba-aba diberikan, mereka meniupkan terompet serentak.
Teet! Tet-tet! Teeet!
Nada-nada nyaring itu memecah udara pagi, menggema di antara bangunan tangsi hingga menjangkau Kantor Administrasi di depan. Willem mengakhiri tiupannya tepat bersama yang lain, sementara gema terompet masih tertinggal sesaat di lapangan.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki mulai bersahutan. Para serdadu bergegas keluar dari barak, merapikan pakaian, lalu membentuk barisan di lapangan apel. Para bintara berjalan di sepanjang barisan, memastikan tak seorang pun terlambat.
***