Willem melangkah cepat menyusuri pusat kota Surabaya yang padat. Di sekelilingnya, deretan gedung berarsitektur kolonial berdiri rapat, dinding-dinding batunya dibalur cat kapur hingga tampak putih bersih di bawah terik matahari. Jalanan bergemuruh ramai oleh lalu-lalang pejalan kaki dan para penjual keliling yang memikul keranjang dagangan mereka. Para wanita pribumi tampak anggun mengenakan kebaya, sementara para lelaki berjalan mengenakan blangkon tradisional. Di trotoar, beberapa noni Belanda melangkah santai sambil merentangkan payung kertasnya, berpapasan dengan seorang politie[1] Hindia Belanda yang mengayuh sepedanya dengan tegap.
Willem menyeberangi persimpangan jalan tepat di depan sebuah gedung megah beraksara besar di fasadnya: Passer Besar Soerabaia[2]. Ia berjalan cepat, langkahnya sedikit kaku karena mengenakan sepatu bot milik Sep. Sebuah trem uap melintas berderit di belakangnya, menyemburkan uap panas dan deru roda besi di atas rel.
Tanpa membuang waktu, Willem menghampiri salah satu dari deretan dokar[3] yang mangkal di pinggir jalan. Ia mengetuk sisi kusen kayu gerobak itu.
“Pak, berapa ke Wonokromo?” tanyanya tergesa.
Kusir dokar itu menatapnya dari atas bangku kusir, mengerutkan kening. “Wonokromo pundi? Sinyo arep pundi? Mau ke mana?”
Sejenak Willem terdiam. Panggilan sinyo selalu meninggalkan rasa asing sekaligus getir di dadanya. Dengan terbata-bata, ia menjawab, “Ke… Hua Yue Lou.”
Kusir itu mendengus, menyunggingkan senyum kecut penuh sindiran. “Wong londo ora ono enteke nafsune…”
Willem kembali terdiam, bingung, tapi ia tak punya pilihan.
“Satu gulden[4], Nyo.”
“Hah?” Willem membelalak.
Kusir itu mendengus kesal. “Yo wes. Delapan ketip[5].”
Saat Willem menerima uang dari tangsi tadi, ia mengira tangsi memberikannya upah yang banyak untuk jerih payahnya, cukup untuk foya-foya kecil. Tapi ia lupa, Kapten Hendrik van Deventer adalah seorang administrator pelit yang teliti; kapten buncit itu pasti sudah memperhitungkan setiap sen pengeluaran militer, bahkan untuk urusan remeh seperti perjalanan anak magang.
Willem tak bisa menolak. Dengan wajah masam, ia memanjat naik ke atas dokar. Cambuk dipecutkan, kuda pun meringkik, dan dokar itu membawanya pergi membelah keramaian kota menuju Wonokromo.
Dokar itu meninggalkan keramaian Passer Besar dan bergoyang ke selatan. Gedung-gedung putih berangsur jarang, berganti pagar bambu, kebun pisang, lalu petak-petak sawah yang berkilau ditimpa matahari. Sepatu Sep terlalu longgar. Setiap guncangan membuat tumit Willem lecet, dan setiap kali ia mengencangkan tali, jarinya terjepit.
“Aku lebih tinggi darinya, tapi kenapa kakinya lebih besar dariku?” gerutunya.
Ia mengeluarkan kantong kecil dari dalam kemejanya dan menghitung ulang isinya. Delapan ketip untuk kusir sudah hilang. Tersisa empat gulden dari Kapten dan tiga gulden miliknya pribadi. Teh yang dibelinya jelas teh langka, tak mungkin dijual murah. Dan tak mungkin juga uang dari Kapten akan sisa.
“Sinyo arep opo to nang kono?” tanya kusir tanpa menoleh.
“Beli teh, Pak. Ada tamu penting yang harus disuguhi.”
Kusir itu tertawa terbahak sampai bahunya terguncang. “Teh! Iyo, teh. Londo pancen pinter golek alasan.”
Willem tidak mengerti di mana lucunya, jadi ia diam. Ia hanya menatap jalan yang memanjang dan mencoba menebak kenapa seorang kapten yang pelit rela menghukumnya dengan perjalanan sejauh ini demi sekantong daun kering.
Dokar akhirnya berhenti di depan gerbang merah berdaun dua. Di atasnya terpampang papan beraksara Tionghoa berlapis emas, dan di bawahnya huruf latin: HUA YUE LOU. Dari balik pagar menyeruak aroma dupa dan bunga.
Willem turun dengan canggung, tumitnya berdenyut di dalam sepatu. Dokar itu pun berlalu dan meninggalkannya sendirian di depan gerbang.
Kedai teh, ia meyakinkan diri. Tapi tak ada kedai teh yang punya penjaga gerbang berkuncir dan mata seperti elang. Willem heran. Ia menelan ludah, menegakkan punggung, lalu melangkah melewati gerbang itu juga.
Ia berhenti seketika. Halamannya luas dan jauh lebih indah dari tempat mana pun di tangsi. Pilar-pilar merah menopang atap melengkung, dan lampion-lampion digantung di tepi atapnya, bergoyang pelan dihembus angin. Bunga-bunga bermekaran di setiap sudut, melati, kamboja, dan teratai di sebuah kolam kecil. Tempat itu ramai. Di gazebo, beberapa lelaki Indo duduk menyesap teh, dilayani perempuan-perempuan berkimono yang tertawa dengan kipas menutupi mulut. Di bawah salah satu pilar, sepasang bayangan bercumbu tanpa peduli siang hari, terlalu rapat dan terlalu berani untuk dilihat. Willem lalu membuang pandang ke bunga-bunga.
“Sinyo!”
Seorang pria Tionghoa bertubuh gempal, berbaju sutra biru tua, menghampirinya dengan langkah ringan. Wajahnya ceria dan bersemangat.
“Oh, jarang sekali ada tamu bermata biru! Pasti bangsawan, ya? Tapi kenapa kotor sekali, Sinyo?”
Willem refleks mengusap wajahnya, berharap noda itu hilang. “Aku mencari Toh Liem Hwat. Aku ingin membeli—”
“Aiya, akulah orangnya, Sinyo!” Pria itu memotong sambil terkekeh. “Aku tahu persis yang kau butuhkan. Ayo, ayo masuk.”
Ia langsung menuntun Willem melewati pintu utama yang besar. Di dalam, cahaya meredup menjadi merah dari lampu-lampu kertas. Koridor panjang dipenuhi bilik-bilik berkelambu, dan dari baliknya terdengar tawa tertahan, bisik-bisik, desahan, serta bunyi tepukan yang sudah sangat dikenal Willem sejak malam-malam di kolong ranjang.
Langkahnya terhenti sebentar. Wajahnya memanas sampai ke telinga. Ini bukan kedai teh.
“Jangan malu, Sinyo,” kata Toh Liem Hwat tanpa menoleh. “Semua orang mulanya begitu.”
Koridor itu berakhir di sebuah aula. Beberapa lelaki Belanda dan Indo duduk bersandar, masing-masing ditemani perempuan di sisinya, menghadap panggung kecil di tengah ruangan. Gendang dan gong ditabuh penuh irama, dan di atas panggung seorang penari bergerak pelan.
Pakaiannya sederhana, hanya kemben dan jarik. Rambutnya yang panjang disanggul seadanya dan dikunci tusuk konde berbentuk bunga kamboja. Jemarinya meliuk, selendangnya berkibar mengikuti ketukan gendang. Willem tertegun. Wajah penari itu sungguh cantik meski ekspresinya datar. Wanita pribumi seperti itu langka di tempat semacam ini, dan auranya melebihi semua perempuan Jepang dan Tionghoa yang ia lihat sejak di halaman.
Melihat kostum dan ekspresinya itu, pasti ini adalah pertunjukan dadakan yang dipaksa.
Toh Liem Hwat terkekeh melihat ekspresi Willem. “Ini yang kau cari, bukan?”
Seseorang memanggil dari kejauhan. Pria itu menepuk bahu Willem sekali, lalu pergi, meninggalkannya sendirian di tengah aula.
Willem tak peduli. Ia lupa pada Kapten Hendrik, lupa pada teh, bahkan pada tumitnya yang berdarah di dalam sepatu Sep. Ia benar-benar terpesona, apalagi saat penari itu menoleh dan menatapnya.
“Bagus sekali!”
Tiba-tiba seorang pemuda Indo naik ke atas panggung. Ia menari mengikuti sang penari dengan gerakan kaku dan patah-patah. Awalnya biasa saja, hingga ia menarik selendang yang dikibarkan sang penari dan mengalungkannya. Perempuan itu tampak terkejut, tapi tetap melakukan gerakannya. Pemuda Indo itu mulai menyentuh tangannya, hingga naik ke bahu. Sang penari refleks melangkah mundur.
Musik terus bermain, semakin intens seolah semuanya semakin seru.