
Keduanya tiba setelah satu jam menempuh perjalanan: menaiki bus dan sedikit berjalan kaki. Cuaca hari ini sangat cerah. Pikirnya yang akan berhibur diri dengan sedikit lengang hanyalah andaian optimisnya belaka karena nyatanya museum bernamakan Yeoksa National Museum tersebut berkilat terang mengundang banyak kekaguman dan ketidakpercayaan setiap orang yang berkunjung ke dalamnya.
Museum yang menyajikan perjalanan sejarah Korea tersebut melahap banyak kunjungan di dalamnya. Pengunjung terlihat silih berganti masuk dan keluar. Biasanya pada hari kerja atau weekday, museum Yeoksa akan banyak menerima siswa-siswa sekolah, sedangkan pada hari-hari libur, seperti weekend, orang-orang sipil ataupun turis yang akan lebih banyak menjejakkan kakinya.
Tidak heran, setiap orang, baik warga asli maupun warga asing yang berkunjung ke Korea, yang penasaran dengan sejarah di balik negara pemilik huruf hangul itu pasti akan memilih museum Yeoksa untuk memenuhi segala rasa keingintahuannya. Museum yang terletak di utara Gaepo-dong itu memperlihatkan ragamnya benda-benda koleksi bersejarah Korea, mulai dari pakaian, artefak, dan karya seni. Tak hanya itu, pemandu museum dengan sigap membantu tiap-tiap pengunjung untuk lebih mengetahui sejarah dinasti per dinasti atau bahkan peristiwa di balik benda-benda berhistoris tersebut, selain kotak putih setinggi 81 sentimeter bertutup kaca bening yang berisikan ringkasan peristiwa tiap-tiap koleksi di sana. Pun mading kaca berukuran sedang—bermuatan penjelasan histori yang lebih detail—juga tak luput dari pindaian mata pengunjung.
Pintu masuk berada di sebelah barat museum, sedangkan pintu keluar berada di sebelah selatan. Dari posisinya, Kaeri dan Reina masih belum menjelajah setengah isi museum. Koridor dibuat seperti labirin yang sangat luas, berurut dari tahun ke tahun.
"Yaaaa, itu sangat menakjubkan."
Desisan decak kagum tidak akan luput dari masing-masing indera pendengaran jika berada di dalam sini. Para pengunjung akan benar-benar dibuat fokus lantaran tidak diperbolehkan untuk sekadar memotret dan merekam sepanjang dalam museum. Selain kegiatan tersebut akan menggangu mobilitas—ditakutkan bergerumbul—pihak museum juga menjaga kelestarian dan keamanan isi beserta hak cipta di dalamnya.
Tak sadar beberapa menit waktu berlalu hingga sampailah pada koridor ¹dinasti Jeoson berkisar pada tahun 1392—1897. Sebuah kerajaan yang berlangsung kurang lebih lima abad lamanya dengan Taejo sebagai pendirinya. Jeoson merupakan kerajaan yang terletak di pusat semenanjung Korea, yakni Hanyang yang sekarang kerap disebut Seoul sebagai ibu kota Korea Selatan. Pada masa dinasti ini pula hangul diciptakan dan menjadi huruf resmi warga Korea Selatan.
Baik Reina maupun Kaeri sama-sama berpencar, fokus pada hal yang menurut mereka menarik: Reina mengamati peninggalan kerajinan berupa keramik buncheong. Keramik sederhana, tetapi kokoh yang merupakan keramik cheongja dengan bubuk tanah putih sebagai pewarnanya. Lain hal dengan Kaeri, perempuan ber-dress putih dengan motif daisy itu tercenung mendapati salah satu kisah pangeran yang menurutnya cukup kompleks.
"Politik dalam istana sangat menyeramkan," simpulnya sembari menjauhi kepala tatkala terlalu fokus membaca sampai tak sadar wajahnya nyaris menempel dengan mading kaca.
Kaeri merasa dirinya ingat tak ingat. Termenung memikirkan garis besar kisah sang pangeran. Anak semata wayang Ratu Nabi harus menjadi korban hausnya kekuasaan seorang selir Raja Gyujin yang bernotabene ayah kandungnya sendiri. Anak kandung dari Ratu dan Raja Jeoson itu hampir terancam diasingkan karena fitnahan yang ditujukan padanya. Fitnahan yang bahkan pangeran itu tidak tahu menahu.
Dilihat dari pengisahan di sana, perebutan posisi putra mahkota tidak serumit yang dibayangkan—sebenarnya. Namun, ambisi dan kehausan orang-orang di balik penurunan tahta itulah yang membuat pergantian raja layaknya pertarungan nyawa. Pengasingan dan hukuman mati siap menanti bagi siapa saja yang nekat membelot diri dari aturan istana.
"Bertahan di dalam atau mati dalam pengasingan," pungkasnya melirik sekali pada mading kaca sebelum melangkah menghampiri Reina yang sudah sibuk memperhatikan rute untuk kunjungan selanjutnya—kebetulan pada beberapa detik yang lalu rekan kerjanya itu masih memanggil-manggil namanya, untungnya tidak tertegur petugas.
"Hanya butuh berjalan kaki lima belas menit maka kita akan sampai."