Serendipity

justyooursj
Chapter #3

Bagian 03

Koridor tampak sepi. Mencekam setiap mata yang memandang. Obor menjadi pembantu pencahayaan dengan api yang menari menyuluhi berbagai sisi koridor. Deruan angin membuatnya bertambah garang, suara bakaran serabut dari dalam bambu tersebut. Sinar rembulan nyatanya tidak cukup, kegagahannya yang indah di atas sana masih dapat menyembunyikan bayang yang berjalan di atas lantai berkayu itu.

Jejak kaki jelas akan terdengar jika tidak berhati-hati maka menepaki lantai dengan setengah berjinjit menjadi solusi—mengendap-endap. Waktu yang sudah hampir tengah malam bukanlah pilihan yang bagus bagi seseorang untuk keluar dari bilik. Bersyukur jika hanya ditegur, tidak sampai ditanyai petugas yang berjaga di gerbang utama dan gapura depan. Namun, rasa dingin yang terus bertambah pada setiap waktunya membangunkan sebuah inisiatif, ujung jemari yang kian terasa sakit tentu tidak akan dibiarkan—alih-alih bergelung dengan selimut yang nyatanya idak akan menyudahi dingin malam yang menusuk tulang itu.

Langkah demi langkah, sedikit membuka tangan dengan jemari yang terbentang seolah mengatur frekuensi suara yang ditimbulkan. Tidak akan lama lagi, pintu area dapur sudah terlihat.

"Siapa di sana?"

Suara bak tertelan angin, entah terlalu fokus untuk tetap berjalan tanpa bunyi atau memang jarak antara pelayan dengan orang yang dilihatnya dari belakang itu masih cukup jauh.

Puk!

"Tuan Youngjae?"

"AAAAA—ssssst!"

Naluriah tentu berteriak lantaran terkejut sebuah tangan menepuk bahu tanpa ada sinyal kehadiran seseorang lain yang teradar. Namun, harus segara tertahan kendati jantungnya berdentum keras tak karuan.

"Dewa ...," lemasnya pias meletakkan tangan di depan dada, "Bibi, kau sangat mengagetkanku."

Wanita yang sudah cukup termakan usia itu hanya menundukkan kepalanya tanda meminta maaf kepada sang Pangeran lantaran tangannya sigap membawa baki dengan selimut tebal di atasnya.

Pasti untuk Ayah, pikirnya berasumsi.

Ayahnya memang tidak kuat menahan diri, sama dengan dirinya, berbeda dengan sang Ibu yang lebih kuat sedikit di atasnya terhadap rasa dingin meskipun ada kalanya mereka berdua bergelung di selimut yang sama ditemani dongeng penghantar tidur kesukaannya.

"Apa Tuan membutuhkan selimut juga? Bibi akan mengantarkannya setelah memberikan selimut ini kepada Raja," tawar Bibi Seol menebak Pangeran di hadapannya sedang bergelut dengan rasa dingin.

"Ehh—tidak-tidak, aku tidak butuh selimut ini, Bi. Aku akan mengatasinya sendiri," sanggahnya cepat mengundang sipitan mata Bibi Seol.

Mati aku.

"Tuan Youngjae, Raja tidak akan senang mengetahuimu menjejaki dapur istana."

Yang diingati hanya bisa menggaruk tengkuknya. Sekarang tidak ada artinya lagi kalau harus lanjut beralibi.

Lihat selengkapnya