Angin Sungai Musi berembus kencang, membawa aroma air keruh bercampur bau arang dari perahu ketek yang berlalu-lalang di kejauhan. Di bawah kolong Dermaga 3 Ulu, Palembang, deburan riak air berirama konstan, menepuk-nepuk tiang kayu ulin yang menjadi saksi bisu pertemuan mereka selama bertahun-tahun. Langit sore di atas Jembatan Ampera berwarna jingga kemerahan, memantulkan bias cahaya matahari tenggelam di atas permukaan sungai yang luas.
Arkan duduk bersila di atas papan kayu yang lembap, kedua tangannya memegang lutut. Ia menatap lurus ke depan, memperhatikan Samaira yang sedang sibuk melipat ujung selendang songket miliknya. Gadis itu mengenakan baju kurung tipis berwarna kuning kunyit, kontras dengan latar belakang dermaga yang mulai temaram.
"Kau yakin bapakmu tidak akan mencari, Sam?" suara Arkan berat, memecah keheningan di antara suara deru mesin kapal barang yang melintas di tengah sungai.
Samaira menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap Arkan dengan mata jernih yang memantulkan cahaya senja. "Bapak masih di pasar 16 Ilir mengurus gudang kain. Dia baru pulang magrib nanti. Kenapa, Arkan? Kau takut?"
Arkan menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang menyembunyikan kegelisahan di dada. "Bukannya takut. Aku hanya memikirkan nasib kita. Sudah tiga tahun kita mencuri-curi waktu seperti ini. Bertemu di bawah dermaga, bicara tentang masa depan seolah-olah dunia ini hanya milik kita berdua, padahal kenyataannya..."
"Kenyataannya apa?" potong Samaira cepat. Suaranya bernada tajam namun menyiratkan kerapuhan yang dalam. "Kenyataannya kita terjebak di kota ini, di mana garis tangan seseorang ditentukan oleh seberapa tebal dompet ayahnya? Atau seberapa terpandang marga di belakang namanya?"
"Bukan begitu maksudku, Sam," Arkan mendesah, meraih segenggam pasir halus di dekat kakinya lalu membiarkannya menetas di antara jari-jarinya. "Aku hanya realistis. Aku anak buruh pelabuhan yang hanya tamat SMA. Kau putri seorang saudagar kain terkemuka di Seberang Ulu. Jarak antara kita bukan sekadar diseberangi oleh jembatan Ampera ini, tapi oleh jurang perbedaan yang dibuat oleh keluarga kita."
Samaira bergeser mendekat. Aroma melati tipis dari minyak wangi tradisional yang ia kenakan menguar di udara, bercampur dengan bau khas sungai. Ia meraih tangan Arkan yang masih kotor oleh debu kayu, menggenggamnya erat-erat tanpa peduli telapak tangan pemuda itu kasar dan keras.
"Aku tidak peduli dengan marga, Arkan. Aku juga tidak peduli dengan tumpukan kain songket di gudang bapak yang dibanggakan itu," bisik Samaira lembut, menatap tepat ke dalam mata Arkan. "Yang kumau hanya kau. Kita sudah berjanji, bukan? Apapun yang terjadi, kita akan keluar dari Palembang ini bersama-sama. Mencari hidup baru di tanah Jawa, jauh dari aturan-aturan kaku keluarga kita."
Arkan menatap genggaman tangan mereka. Hangat. Namun ada rasa dingin yang merayap di tengkuknya setiap kali Samaira membahas rencana pelarian itu. Bukan karena ia tidak mencintai gadis di hadapannya ini, melainkan karena ia tahu persis betapa kejamnya dunia luar bagi orang-orang tanpa modal seperti mereka.
"Jawa itu luas, Sam. Tidak semudah membalikkan telapak tangan," kata Arkan dengan nada rendah. "Di sana kita bukan siapa-siapa. Tidak ada paman yang bisa memberiku pekerjaan di galangan kapal, tidak ada bibi yang bisa menampung kita."
"Kita bisa bekerja apa saja, Arkan! Aku bisa menjahit, kau bisa menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan. Asalkan kita bersama," desak Samaira, nada suaranya mulai meninggi, menyuarakan keputusasaan yang selama ini dipendamnya di balik dinding rumah besarnya yang megah. "Kau ingat apa yang bapak katakan minggu lalu? Dia sudah menjodohkanku dengan anak seorang pejabat bea cukai dari Plaju. Pria tua beristri dua yang usianya hampir sama dengan bapakku sendiri!"
Arkan tertegun. Rahangnya mengeras seketika. Urat-urat di lehernya menegang mendengar pengakuan itu. Meskipun ia sudah menduga hal semacam itu cepat atau lambat akan terjadi, mendengarnya langsung dari bibir Samaira membuat darahnya mendidih.
"Kapan?" tanya Arkan dingin.
"Bulan depan. Setelah acara panen raya selesai," jawab Samaira tertunduk, air mata hampir menetes di sudut matanya. "Makanya aku bilang, ini satu-satunya kesempatan kita, Arkan. Kalau kita tidak pergi sekarang, selamanya aku akan menjadi tawanan di rumah sendiri, hidup dalam sangkar emas yang menyesakkan."
Arkan menarik napas dalam-dalam. Udara lembap malam mulai merayap naik dari permukaan Sungai Musi. Lampu-lampu neon dari perahu ketek dan warung apung di sepanjang tepian mulai menyala satu per satu, memantulkan garis-garis cahaya kuning dan merah di atas air yang tenang.
"Baiklah," ucap Arkan akhirnya, suaranya terdengar tegas dan mutlak. "Jika itu maumu. Kita pergi."
Samaira mendongak, matanya berbinar di antara temaram cahaya senja yang nyaris habis. "Benar? Kau tidak sedang membual kan, Arkan?"
"Aku tidak pernah main-main kalau menyangkut dirimu, Sam," sahut Arkan sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan sehelai kain kain usang berwarna putih yang berisi dua buah cincin perak sederhana yang dibelinya dari hasil mengumpulkan upah membongkar muatan kapal selama dua bulan. "Ini. Belum sempat kupakaikan waktu itu. Tapi sekarang waktu yang tepat."
Samaira menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan Isak tangis bahagia yang hampir lepas. Arkan meraih jemari lentik gadis itu, lalu memasukkan cincin perak yang sedikit kebesaran ke jari manisnya.
"Di bawah dermaga ini, di hadapan Sungai Musi yang menjadi saksi, aku berjanji, Samaira. Aku akan membawamu pergi dari sini. Kita akan membangun hidup kita sendiri, tanpa campur tangan siapa pun," ucap Arkan dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.
Samaira balas memasukkan cincin yang satunya ke jari Arkan. "Dan aku berjanji, Arkan. Apapun rintangannya, aku akan tetap berdiri di sampingmu. Sampai kapan pun."
❖ ❖ ❖
Dua minggu berlalu sejak janji itu diucapkan di bawah kolong dermaga. Suasana di kawasan Seberang Ulu terasa jauh lebih mencekam bagi Samaira. Rumah keluarganya kini dijaga ketat oleh dua orang pengawal bayaran suruhan ayahnya, Haji Mahmud. Setiap gerak-gerik Samaira diawasi; mulai dari saat ia keluar kamar untuk mengambil air wudu, hingga saat ia duduk di teras depan rumah.
Di kamarnya yang luas namun terasa seperti penjara, Samaira mondar-mandir gelisah. Di atas meja riasnya tergeletak sebuah koper kulit tua berwarna cokelat tua—pemberian Arkan secara diam-diam kemarin malam melalui celah pagar belakang. Koper itu sudah berisi beberapa helai pakaian sederhana, beberapa lembar uang tabungan rahasianya, dan dokumen penting yang berhasil ia curi dari lemari kerja ayahnya.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar.
"Neng Sam, ini bibi," suara parau dari balik pintu membuat jantung Samaira berdegup kencang.
Samaira segera bergegas membuka pintu. Bi Mardiyah, wanita paruh baya yang sudah mengasuhnya sejak kecil, berdiri dengan wajah cemas sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat.
"Ada apa, Bi?" tanya Samaira buru-buru, menarik tangan sang bibi masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kembali.
Bi Mardiyah meletakkan nampan di atas meja, lalu menatap Samaira dengan pandangan penuh kekhawatiran. "Neng, bibi dengar pembicaraan tuan besar di ruang kerja tadi. Calon suami Neng yang dari Plaju itu... dia akan datang besok pagi bersama keluarganya untuk mempercepat tanggal pernikahan. Bukan bulan depan lagi, tapi minggu ini."
Samaira merasa lantai di bawah kakinya seolah runtuh. Wajahnya pucat pasi. "Minggu ini? Bi, tidak mungkin! Ini terlalu cepat!"
"Tuan Mahmud sudah tidak sabar. Katanya urusan bisnis mereka dengan pihak bea cukai harus segera diikat melalui ikatan keluarga," jelas Bi Mardiyah sambil memegang kedua bahu Samaira. "Neng, bibi tahu Neng tidak suka perjodohan ini. Tapi melawan Tuan besar sama saja mencari maut. Apa yang sebenarnya Neng rencanakan? Bibi lihat koper itu..."
Samaira menatap bi Mardiyah dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu wanita tua itu adalah satu-satunya orang di rumah ini yang menyayanginya secara tulus. Tidak ada pilihan lain selain jujur.
"Bi, aku akan pergi besok malam. Arkan sudah menyiapkan semuanya. Kami akan menumpang kapal barang tujuan Batavia yang bersandar di Pelabuhan Boom Baru," bisik Samaira putus asa namun penuh tekad.
Bi Mardiyah terperanjat, menutup mulutnya dengan tangan keriputnya. "Astagfirullah, Neng! Pergi ke Batavia? Tanpa restu orang tua? Kalau Tuan Mahmud tahu, bisa hancur keluarga kita! Bapakmu pasti akan mengerahkan seluruh orangnya untuk mencari kalian sampai ke lubang semut!"
"Biar hancur, Bi. Asalkan aku tidak harus menikah dengan pria tua itu," air mata Samaira akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. "Bibi tolonglah aku. Jangan katakan apa pun pada siapa pun sampai besok malam. Anggap saja bibi tidak pernah melihatku."
Bi Mardiyah menatap mata Samaira yang menyiratkan keteguhan luar biasa. Wanita tua itu menghela napas panjang, sebuah desahan berat yang sarat akan kekhawatiran seorang ibu angkat. Ia tahu betul bagaimana keras kepala sifat Haji Mahmud, tetapi ia juga melihat betapa sengsaranya Samaira selama ini hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan ayahnya.
"Ya Allah, lindungilah anak ini," gumam Bi Mardiyah pelan sambil mengelus rambut Samaira. Ia kemudian mengangguk lemah. "Baiklah, Neng. Bibi akan tutup mulut. Tapi ingat, jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum keadaan benar-benar aman."
Sementara itu, di sisi lain kota Palembang, di sebuah warung kopi sederhana dekat Pasar 26 Ilir, Arkan sedang sibuk menghitung sisa uang di dalam dompet kainnya. Uang hasil kerjanya selama sebulan terakhir ditambah pinjaman kecil dari temannya sesama buruh pelabuhan hanya cukup untuk membeli dua tiket kelas ekonomi kapal barang dan sedikit bekal selama di perjalanan laut nanti.
Seorang pemuda berperawakan gempal bernama Jefri duduk di seberang meja, menyeruput kopi hitamnya dengan santai sambil memperhatikan gerak-gerik Arkan.
"Kau benar-benar nekat, Kan," kata Jefri membuka suara. "Membawa lari anak Haji Mahmud sama dengan mencari musuh seumur hidup. Orang itu punya bekingan preman pasar dan aparat. Kalau ketahuan, bukan cuma babak belur, nyawa pun bisa melayang."
Arkan tidak langsung menjawab. Ia melipat uang kertas kusut itu lalu memasukkannya kembali ke saku celana jinsnya. Matanya menatap tajam ke arah cangkir kopi yang mengepulkan uap tipis.
"Aku tidak punya pilihan lain, Jefri," ujar Arkan dengan suara dingin. "Kalau aku diam saja, Samaira akan dinikahkan dengan pria tua hidung belang itu minggu depan. Aku lebih baik mati daripada harus melihatnya menderita seumur hidup bersama orang yang tidak dicintainya."
"Cinta memang buta, kawan. Tapi perut kosong di tanah rantau itu nyata," balas Jefri memperingatkan. "Di Jakarta sana, hidup tidak seindah sinetron televisi. Tanpa ijazah kuliah, tanpa relasi, kau cuma akan jadi buruh kasar yang dibayar murah. Yakin Samaira tahan hidup susah?"