Langit di atas Desa Sukamaju perlahan berubah warna, menumpahkan semburat jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air sawah yang baru saja dibajak. Suasana sore itu terasa begitu tenang, diiringi suara angin yang bergesek dengan daun-daun padi dan sesekali diselingi dengkur lesu kerbau di kandang belakang rumah. Namun, ketenangan alam itu berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam ruang tamu rumah Arkan. Udara di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa padat dan menyesakkan, seolah oksigen menipis tersedot oleh ketegangan yang membentang di antara dua orang manusia yang duduk berhadapan.
Di sudut ruangan, lampu minyak tanah berkedip lemah, memancarkan cahaya kekuningan yang menari-nari di atas meja kayu usang. Di atas meja tersebut terletak sebuah amplop cokelat tebal yang telah dibuka segelnya. Surat resmi dari sebuah perusahaan manufaktur terkemuka di ibu kota tergeletak di sana, memuat masa depan yang menjanjikan sekaligus menakutkan bagi sebuah keluarga kecil di desa terpencil ini.
Arkan menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di dadanya sebelum ia mengangkat wajah untuk menatap pria paruh baya yang duduk di seberangnya. Wajah ayahnya, Pak Joko, tampak begitu lelah. Garis-garis penuaan di wajah pria itu tercetak semakin dalam, dihiasi keringat tipis yang belum sempat mengering setelah seharian bergulat dengan cangkul di ladang tetangga. Tangan Pak Joko yang kasar dan penuh kapalan memegang segelas teh tawar yang sudah mendingin, bergetar kecil bukan karena usia, melainkan karena beban pikiran yang teramat berat.
"Bapak sudah baca surat itu tiga kali, Arkan," suara Pak Joko akhirnya memecah keheningan, terdengar serak dan berat, sarat akan kekhawatiran yang tak mampu disembunyikannya lagi. "Dan semakin Bapak baca, semakin Bapak merasa... kalau dunia ini sedang bersiap merampas satu-satunya hal berharga yang tersisa di rumah ini."
Arkan merapatkan kedua telapak tangannya di atas lutut. Ia menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya kering seperti tanah kemarau.
"Bukannya ini yang selalu kita bicarakan selama setahun terakhir, Pak?" suara Arkan keluar pelan, nyaris berbisik, namun tegas di setiap suku katanya. "Kuliah sudah selesai, ijazah sudah di tangan. Tapi kesempatan kerja di kabupaten tidak ada, Pak. Kalaupun ada, gajinya tidak cukup untuk menutup sisa utang di warung Bu Siti, apalagi untuk biaya berobat rutin Ibu."
"Bapak tahu itu, Nak. Bapak tidak buta," potong Pak Joko cepat, nadanya sedikit meninggi sebelum akhirnya melunak kembali, menyadari emosi yang mulai merayap naik. "Tapi ibu kotanya itu terlalu jauh, Arkan. Jakarta bukan tempat yang ramah untuk anak desa seperti kamu yang hanya bermodalkan ijazah dan semangat setengah matang. Di sana kamu bukan siapa-siapa. Kamu cuma butiran debu di tengah badai."
"Kalau saya hanya diam di desa, membiarkan hari-hari berlalu tanpa perubahan, apakah itu pilihan yang lebih baik, Pak?" Arkan menatap lurus ke dalam mata ayahnya, mencari sisa-sisa restu di sana. "Lihatlah ladang kita. Dua musim terakhir gagal panen karena cuaca tidak menentu. Utang bertumpuk di mana-mana. Apakah Bapak ingin melihat saya tua di sawah dengan nasib yang sama persis seperti Bapak, berjuang seumur hidup hanya untuk bisa makan sehari sekali?"
Pertanyaan itu menohok tepat di jantung Pak Joko. Sang ayah terdiam, pandangannya menerawang kosong ke arah pintu yang terbuka setengah, menatap kegelapan malam yang mulai turun menyelimuti pekarangan. Ada rasa bersalah yang mendalam merayap di dada pria tua itu. Sebagai seorang ayah, impian terbesar dalam hidupnya adalah melihat anaknya hidup lebih baik, tidak merasakan perihnya kemiskinan yang telah menggerogoti hidupnya selama puluhan tahun. Namun, ketakutan akan kehilangan satu-satunya pelita keluarga membuat naluri protektifnya berontak.
"Bukan itu maksud Bapak..." Pak Joko mendesah berat, mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang kasar. "Bapak hanya takut. Kota besar itu kejam. Ibu kamu... kamu tahu sendiri kondisi kesehatannya semakin menurun. Kalau kamu pergi, siapa yang akan mendampinginya saat batuk darahnya kambuh di tengah malam? Siapa yang akan mengantarnya ke puskesmas?"
"Ada Rini, Pak. Adik saya sudah besar, dia bisa membantu menjaga Ibu," jawab Arkan, meski ia sendiri merasa ragu di lubuk hatinya yang paling dalam. Rini baru berusia enam belas tahun, masih duduk di bangku SMA, dan membebankan urusan ibu yang sakit padanya adalah keputusan yang egois. Namun, apa pilihan lain yang mereka miliki? Tetap tinggal di desa berarti berjalan perlahan menuju jurang kebangkrutan total.
"Rini masih anak-anak, Arkan," sanggah Pak Joko tegas. "Dia butuh fokus belajar untuk masa depannya sendiri. Jangan bebankan semua kepedihan ini di pundaknya yang masih kecil."
"Lalu di pundak siapa, Pak? Di pundak saya?" Arkan balas bertanya, nada suaranya mulai bergetar oleh emosi yang tertahan. "Saya tidak lari dari tanggung jawab. Kepergian saya ke Jakarta justru bentuk tanggung jawab paling besar yang bisa saya ambil sekarang. Gaji di sana cukup untuk mengirim uang bulanan, melunasi utang-utang keluarga, dan membawa Ibu berobat ke dokter spesialis yang layak. Ini bukan soal saya ingin meninggalkan kalian, ini soal bertahan hidup!"
Ruangan kembali sunyi. Debu-debu halus berterbangan di bawah cahaya lampu minyak, tersorot angin malam yang mulai masuk melalui celah-celah dinding bambu. Pak Joko menunduk, menatap lantai semen yang retak di bawah kakinya. Pertengkaran batin yang hebat tengah berkecamuk dalam diri pria paruh baya itu. Di satu sisi, logika dan realita ekonomi mendesaknya untuk melepas sang anak terbang. Di sisi lain, ketakutan kehilangan anak laki-laki satu-satunya menahannya dengan rantai yang tak kasat mata.
"Kapan... kapan kamu harus berangkat kalau kamu terima tawaran itu?" tanya Pak Joko akhirnya, suaranya terdengar sangat lemah, menyerah pada kenyataan pahit yang tak bisa dihindari.
"Lusa, Pak," jawab Arkan pelan. Ia menundukkan kepala, tidak sanggup melihat kelegaan bercampur kepedihan di wajah ayahnya. "Tiket kereta sudah dipesan oleh pihak perusahaan secara online. Saya harus melapor ke kantor pusat di Jakarta hari Senin pagi."
❖ ❖ ❖
Hari keberangkatan tiba dengan kecepatan yang mengejutkan. Pagi di stasiun kecil kecamatan terasa dingin menusuk tulang. Kabut tipis masih menggantung di atas rel kereta yang membentang lurus menuju ufuk barat. Di peron yang sepi, hanya terdengar suara pengumuman kedatangan kereta api ekonomi yang berdengung lewat pengeras suara tua berkarat.
Arkan berdiri di samping karung goni besar dan sebuah ransel kusam yang berisi pakaian seadanya. Di depannya, ibunya—Ibu Siti—memegang erat kedua tangan Arkan, seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, anaknya akan lenyap ditelan angin. Wajah Ibu Siti tampak pucat, sisa-sisa sakit yang dideritanya membuat tubuhnya terlihat semakin susut di balik balutan selendang rajut tua.
"Jaga kesehatanmu baik-baik di sana, Nduk... eh, Arkan," suara Ibu Siti terbata, air matanya menetes pelan membasahi punggung tangan anaknya. "Jangan lupa makan tepat waktu. Makanan di kota mahal, tapi jangan pernah menyiksa perutmu hanya demi menabung."
"Iya, Bu. Arkan pasti ingat pesan Ibu," jawab Arkan, berusaha keras memasang senyum paling tulus di wajahnya, meski tenggorokannya terasa tercekat hebat. Ia tahu betul betapa berat bagi ibunya untuk melepasnya pergi dalam kondisi fisik yang lemah.
Pak Joko berdiri agak jauh, merokok lintingan terakhirnya dengan pandangan tertuju ke rel kereta. Pria itu tidak banyak bicara sejak pagi tadi. Namun, saat peluit panjang kereta mulai terdengar di kejauhan, menandakan kedatangan besi tua beroda baja itu, Pak Joko melangkah mendekat. Tanpa sepatah kata pun, ia merengkuh tubuh Arkan ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang sangat langka terjadi sepanjang hidup Arkan. Pelukan seorang ayah yang kaku, penuh dengan kehangatan tersembunyi, aroma tembakau, dan keringat kerja keras.
"Hati-hati di rantau, Le," bisik Pak Joko tepat di telinga Arkan, suaranya bergetar hebat. "Ingat asal-usulmu. Jangan pernah gadaikan harga diri demi uang. Kalau sudah tidak sanggup, pulanglah. Rumah ini selalu terbuka untukmu."
"Iya, Pak. Arkan pergi dulu," ucap Arkan, membalas pelukan itu dengan erat sebelum akhirnya melepaskannya.
Kereta berhenti dengan suara derit rem besi yang memekakkan telinga. Pintu gerbong terbuka lebar, dan gelombang manusia yang turun berdesakan dengan mereka yang ingin naik. Di tengah kerumunan yang sibuk dan bau peluh yang menyengat, Arkan melangkah naik ke dalam gerbong kereta ekonomi yang padat sesak. Ia mendesak masuk hingga menemukan sebuah kursi sempit di dekat jendela kaca yang kotor dan berdebu.
Dari balik kaca jendela yang buram, ia melihat kedua orang tuanya berdiri berdampingan di peron. Ibu Siti melambaikan tangan dengan sapu tangan putih yang sudah basah oleh air mata, sementara Pak Joko berdiri tegak dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya, menatap nanar ke arah jendela tempat Arkan duduk. Kereta mulai tersentak, roda-rodanya berderit perlahan, lalu bergerak maju meninggalkan peron stasiun.
Bayangan kedua orang tuanya semakin mengecil, terhalang oleh tiang-tiang listrik, pepohonan, dan akhirnya lenyap digantikan oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas. Arkan bersandar di kursi keras gerbong kereta, menghela napas panjang. Perjalanan panjang ribuan kilometer baru saja dimulai, dan di hadapannya terbentang ketidakpastian kota besar yang siap menelan siapa saja yang datang tanpa persiapan.
❖ ❖ ❖
Tiga bulan berlalu di Jakarta bagaikan sebuah mimpi buruk yang berjalan lambat. Arkan mendapati dirinya terlempar ke dalam pusaran kehidupan metropolitan yang tidak kenal ampun. Kontras antara bayangan indah tentang kota besar dan kenyataan pahit di lapangan terpampang nyata di setiap sudut jalanan ibu kota yang sesak oleh polusi dan deru kendaraan bermotor.
Kamar kos berukuran dua kali tiga meter di sebuah gang sempit kawasan Tanah Abang menjadi saksi bisu perjuangannya. Dindingnya yang terbuat dari triplek tipis tidak mampu meredam suara bising dari jalan raya di luar, juga suara tetangga kamar sebelah yang sering berdebat hingga larut malam. Di ruangan sempit itulah Arkan menghabiskan malam-malam panjangnya setelah bekerja belasan jam sehari sebagai staf administrasi kontrak di sebuah gudang distribusi logistik.