Cahaya matahari sore merembes malu-malu melalui celah tirai linen yang berwarna gading, meninggalkan garis-garis emas yang malas di atas lantai kayu kamar apartemen mereka. Udara di luar terasa berat, membawa aroma khas musim peralihan yang basah dan sedikit menusuk hidung. Di dalam ruangan yang senyap ini, waktu seolah berjalan dengan lambat, hampir merayap, seakan ikut merasakan beban yang menggelayut di dada Arya dan Sekar.
Arya duduk di tepi ranjang, menatap sebuah koper kulit berwarna cokelat tua yang terbuka lebar di hadapannya. Koper itu baru setengah terisi. Beberapa helai kemeja lipat rapi berjejer di sisi kiri, sementara ruang di sebelah kanan masih menganga kosong, menunggu untuk diisi oleh sisa-sisa pakaian dan barang kenangan. Setiap kali Arya melirik koper itu, dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya perlahan-lahan.
Sekar berdiri di dekat jendela, membelakangi Arya. Kedua tangannya melipat di depan dada, menatap kosong ke arah jalanan kota yang mulai menyalakan lampu-lampu jalan. Siluet tubuhnya tampak rapuh dalam balutan kardigan wol tebal yang kebesaran.
"Kau yakin tidak ingin memasukkan buku-buku catatan itu sekalian?" suara Sekar memecah keheningan, terdengar begitu tenang, hampir berbisik, namun justru menyayat hati Arya.
Arya mendongak, menatap punggung wanita yang telah menemaninya melewati separuh dekade terakhir hidupnya. Ia menelan ludah yang terasa pahit sebelum menjawab. "Aku akan meninggalkannya di sini, Sekar. Biar tetap di rak buku itu. Tempatnya memang di sana."
Sekar perlahan membalikkan badan. Wajahnya pucat, tetapi matanya kering—tidak ada air mata yang tumpah hari ini, dan justru itu yang membuat Arya merasa jauh lebih takut. Air mata, setidaknya, adalah bentuk pelarian. Ketenangan Sekar adalah benteng pertahanan yang rapuh, siap runtuh kapan saja.
"Buku-buku itu berisi catatan perjalanan kita selama lima tahun terakhir, Arya," kata Sekar, melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di sisi seberang koper. Ia meraih sebuah buku bersampul kulit hitam yang tergeletak di nakas. Jemarinya mengusap lembut permukaan buku itu. "Kau mau meninggalkannya begitu saja? Seolah-olah semua memori itu bisa ditinggal di atas meja?"
"Bukannya begitu," Arya mendesah, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang terasa dingin. Ia lantas merosot dari tepi ranjang, berlutut di lantai tepat di hadapan Sekar, mensejajarkan tinggi mata mereka. "Bukan berarti aku ingin melupakannya. Justru karena aku tidak ingin melupakannya, aku ingin buku itu tetap di sini. Di rumah kita. Rumah yang kita bangun bersama."
Sekar menatap mata Arya lekat-lekat. Ada kilatan luka yang amat dalam di sana, bercampur dengan kepasrahan yang menyakitkan. "Tapi rumah ini tidak akan lagi menjadi rumah kita setelah lusa, Arya. Ini hanya akan menjadi tempat asing bagiku, dan bagimu... tempat kenangan masa lalu."
"Jangan bicara begitu," potong Arya cepat, jemarinya terulur menggenggam tangan Sekar yang dingin. Ia membawa tangan itu ke bibirnya, mengecupnya lembut. "Jarak itu hanya angka, Sekar. Tugas di luar negeri ini hanya kontrak dua tahun. Dua tahun itu akan berlalu cepat."
"Dua tahun bagi orang lain mungkin cepat, Arya. Tapi bagi kita yang harus terpisah ribuan mil, dengan zona waktu yang berbeda, kesibukan yang menumpuk... dua tahun bisa menjadi selamanya," ucap Sekar lirih, suaranya bergetar tipis, nyaris hilang ditelan angin sore.
Arya mengeratkan genggaman tangannya. Ia ingin menyangkal, ia ingin meneriakkan bahwa cinta mereka lebih kuat dari jarak manapun di muka bumi ini. Namun, tenggorokannya mendadak tercekat. Ia tahu betul betapa beratnya komitmen jarak jauh. Mereka telah melihat banyak pasangan di sekeliling mereka yang kandas karena alasan yang sama.
"Aku mencintaimu," bisik Arya, menatap manik mata Sekar dengan kejujuran yang telanjang. "Hanya itu satu hal yang tidak akan pernah berubah, di belahan bumi manapun aku berada."
Sekar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyayat hati, sarat akan kepedihan. "Aku tahu, Arya. Kalau tidak, mungkin kita tidak akan tersiksa separah ini sekarang."
Mereka terdiam kembali. Suara detak jam dinding di sudut kamar terdengar begitu nyaring, seolah menghitung mundur detik-detik kebersamaan mereka yang tersisa. Arya merangkak naik ke atas ranjang, lalu menarik Sekar ke dalam pelukannya. Sekar tidak melawan; ia membenamkan wajahnya di dada Arya, mendengarkan detak jantung pria itu yang bergemuruh cepat.
❖ ❖ ❖
Malam semakin larut, namun kantuk enggan menghampiri mata keduanya. Ruangan kamar kini hanya diterangi oleh temaram lampu tidur berbentuk silinder di sudut ruangan, memantulkan bayangan panjang di dinding.
"Ingatkah kau saat kita pertama kali tersesat di kota ini?" tanya Sekar tiba-tiba, suaranya memecah keheningan malam, terdengar begitu dekat di telinga Arya.
Arya tersenyum tipis di dalam gelap, jemarinya memainkan ujung rambut Sekar yang tergerai di bantal. "Bagaimana mungkin aku lupa? Saat itu hujan turun begitu deras, payung kita patah diterpa angin, dan kita berlari tertawa-tawa mencari tempat berteduh."
"Kita masuk ke kedai kopi kecil di ujung jalan itu," lanjut Sekar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Kopi pesananmu tumpah karena kau terlalu gugup menatapku."
"Bukan gugup karena menatapmu," elak Arya setengah berbisik, disusul tawa kecil yang terdengar getir. "Aku gugup karena aku sadar, sejak detik itu, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku sudah terikat."
Sekar mendongak, menatap wajah Arya dalam keremangan cahaya. "Dan sekarang, kita berada di ambang perpisahan yang nyata. Bukan karena hujan, bukan karena kedai kopi yang tutup, tapi karena dunia kita dipaksa berjalan ke arah yang berlawanan."
Suasana mendadak menegang kembali. Kegembiraan dari memori masa lalu itu menguap seketika, menyisakan kenyataan pahit yang mencengkeram dada.
"Ini bukan perpisahan selamanya, Sekar," ucap Arya, mencoba meyakinkan diri sendiri sekaligus wanita di pelukannya.
"Tapi rasanya sama persis, Arya," balas Sekar dengan suara tercekat. Ia melepaskan diri dari pelukan Arya secara perlahan, lalu duduk bersila menghadap pria itu. Wajahnya tampak serius, dibayangi keraguan yang selama ini ia pendam rapat-rapat. "Arya... jujurlah padaku. Apakah kepindahanmu ini benar-benar hanya tentang karier? Atau sebenarnya kau ingin lari?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tajam bagaikan bilah belati yang menusuk tepat di jantung pertahanan Arya. Pria itu tertegun, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Lari? Lari dari apa, Sekar?" tanya Arya dengan suara tertahan, mencoba menghindari tatapan tajam wanita itu.
"Dari kita," jawab Sekar tegas. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menahan air matanya agar tidak tumpah. "Dari ketegangan-ketegangan kecil yang belakangan ini sering terjadi di antara kita. Dari rasa jenuh yang mulai merayap dalam hubungan kita selama setahun terakhir."
Arya terkesiap. Ia ingin membantah, ia ingin mengatakan bahwa Sekar salah besar. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling palung, ia tahu ada benarnya perkataan itu. Beberapa bulan terakhir, rumah mereka memang terasa lebih sering diwarnai oleh kebisuan dan pertengkaran-pertanyaan kecil yang dibesar-besarkan.
"Sekar, jangan berpikir seperti itu..." Arya mencoba meraih tangan wanita itu lagi, namun Sekar menarik tangannya pelan.
"Jujurlah pada dirimu sendiri, Arya," desak Sekar, suaranya mulai bergetar hebat. "Kesempatan kerja di luar negeri itu datang begitu cepat, dan kau langsung mengambilnya tanpa berdiskusi panjang denganku terlebih dahulu. Kau memutuskan sendiri, seolah-olah keberadaanku di sini sudah tidak lagi menjadi pertimbangan utamamu."
Kata-kata itu menghantam Arya telak. Itu adalah rahasia terdalam yang selama ini ia simpan rapat-rapat—rasa bersalah karena jauh di lubuk hatinya, tawaran kerja di seberang samudra itu memang sempat ia lihat sebagai sebuah jalan keluar dari kebuntuan hubungan mereka.